oleh

Ketum PP Muhammadiyah: Pandemi Belum berakhir, Jangan Abai dengan Wabah Ini!

JAKARTA | Maslahat Umat — Rabu 18 November 2020 M bertepatan 3 Rabiul Akhir 1442 H, Muhammadiyah genap berusia 108 tahun. Diusianya yang telah matang, Muhammadiyah mampu bertahan dan berkembang sebagai Gerakan Islam yang terus berkiprah memajukan umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta.

“Kesyukuran merupakan kekuatan ruhaniah Muhammadiyah agar dalam menjalankan misi dakwah dan tajdid senantiasa mendapatkan berkah dan ridaAllah. Dengan bersyukur Muhammadiyah akan memperoleh keluasan rezeki dan karunia Allah sebagaimana janji-Nya,” demikian dikatakan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam Pidataonya di Milad Muhammadiyah ke-108.

Dikatakan Haedar, Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang berdiri sebelum Republik Indonesia merdeka, sesuai Kepribadiannya senantiasa bekerjasama dengan semua kalangan “dalam memelihara dan membangun Negara untuk mencapai Masyarakat Utama, adil, dan makmur yang diridai Allah SWT.”

Hadapi Pandemi

Muhammadiyah ketika memperingati Milad ke-108 berada dalam suasana bangsa dan dunia masih menghadapi pandemi covid-19. Sebagai kaum beriman, pandemi ini merupakan musibah yang harus kita hadapi dengan ikhtiar dan doa yang sungguh-sungguh agar Allah SWT mengangkat wabah ini atas Kuasa dan Rahman-Rahim-Nya.

Muhammadiyah melalui Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC), ‘Aisyiyah, dan seluruh komponen gerakannya sejak awal terus berbuat yang maksimal dalam menghadapi sekaligus mencari solusi atas pandemi ini. Muhammadiyah mengambil langkah memberi solusi dalam usaha kesehatan, sosial-ekonomi, edukasi masyarakat, dan panduan keagamaan hasil ijtihad Tarjih.

“Alhamdulillah kiprah Muhammadiyah memperoleh apresiasi dari berbagai pihak dan masyarakat luas,” kata Haedar.

Mark R. Woodward, seorang antropolog ternama dari Arizona State University AS, secara khusus menulis “Holidays in the Plague Year: Lesson from the Indonesian Muhammadiyah Movement” (31/3/2020). Dia menilai Muhammadiyah dalam menghadapi pandemi covid-19 telah mengajarkan praktik baik cara beragama yang tekun, taat, dan rasional.

Muhammadiyah, kata Mark, sigap mempromosikan praktik keagamaan yang adaptatif dalam menghambat penyebaran covid-19. Peneliti “Islam Jawa” tersebut berharap Muhammadiyah menjadi teladan global dalam menghadapi pandemi, bukan hanya bagi komunitas muslim di Asia Tenggara, India dan Timur Tengah, tapi juga untuk komunitas Protestan Amerika.

Menjelang Milad ini melalui MCCC, Muhammadiyah mendapatkan penghargaan dari Kementerian Kesehatan atas kinerjanya dalam melawan covid19. Penghargaan tersebut diberikan dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional ke-56 tanggal 12 November 2020.

“Semuanya merupakan bukti, jika Muhammadiyah berbuat baik wujud dari amal saleh dengan ikhlas, maka kiprahnya akan memeperoleh dukungan positif dari masyarakat luas.”

Mengutip firman  Allah, “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri” (QS alIsrā’: 7).

Haedar mengungkapkan, Muhammadiyah terus berikhtiar agar usaha menghadapi pandemi makin ditingkatkan dan tidak boleh surut. Pandemi covid-19 ini telah membawa dampak sangat luas dalam kehidupan. Data dunia pada 15 November 2020 menunjukkan jumlah kasus tersebar di 189 negara yang terkonfirmasi mencapai 54.780.802 juta, kematian 1.323.841 juta jiwa, serta pasien sembuh 35,7 juta orang.

Di Indonesia pada 15 November 2020 tercatat naik menjadi 467.113 kasus, pasien sembuh 391.991 orang, dan meninggal 15.211 orang. Pandemi ini sungguh belum berakhir. “Karenanya Muhammadiyah mengajak semua pihak dan warga bangsa untuk bersama-sama berusaha menghadapi musibah ini dengan segala ikhtiar yang maksimal. Tegakkan aturan serta disiplin protokol kesehatan dengan sebaik-baiknya.”

“Umat Islam dan warga Persyarikatan harus menunjukkan uswah ḥasanah dan menjadi pemberi solusi hadapi pandemi yang berat ini. Setelah sembilan bulan semua berjuang dengan prihatin, kita harus tetap disiplin dan waspada, serta tidak boleh lengah sebagai wujud sikap keislaman yang berakhlak karimah dan raḥmatan lil-‘ālamīn. Setiap pengabaian dan kelalaian dapat berdampak luas pada keselamatan jiwa sesama serta membuat proses yang sudah tercipta baik akan kembali tidak kondusif,” ungkap Haedar.

Haedar mengingatkan, pandemi belum berakhir, semua pihak harus tetap waspada. Jangan abai dan menganggap ringan wabah ini dengan bertindak tidak disiplin. Perbuatan orang tidak disiplin dapat berdampak luas bagi penularan virus dan keselematan jiwa orang lain.

Dikatakannya, jika belum mampu memberikan solusi, setidaknya jangan membikin masalah yang membuat rantai penularan makin menyebar. Allah melarang manusia berbuat kerusakan, sebagaimana firman-Nya: Artinya, “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya …” (QS al-A‘rāf: 56).

Meskipun, dalam praktiknya terdapat orang-orang yang berbuat “fasād” (kerusakan) atas nama “iṣlaḥ” (kebaikan, perdamaian, pembangunan) sehingga kehidupan mengalami kehancuran (QS al-Baqarah: 11). (des)

News Feed