oleh

Ketakwaan Hakiki di Bulan Suci Ramadhan

Oleh: Maya Amellia Rosfitriani, Mahasiswa Universitas Gunadarma

Maslahat Umat | Marhaban ya Ramadhan. Tak terasa kita sudah dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan. Kali ini kita dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan 1442H.

Bagi seorang Muslim bulan Ramadhan adalah bulan istimewa, yang diwajibkan untuk menunaikan ibadah puasa. Ramadhan dikenal sebagai bulan bertabur pahala berlipat ganda, sebab di bulan ini semua pahala dilipatgandakan, bulan pengampunan atas dosa-dosa, bulan pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup serta setan-setan dibelenggu.

Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yakni malam Lailatul Qadar. Bulan yang Allah turunkan Al-Quran sebagai pedoman hidup manusia serta sumber kebahagiaan dunia dan akhirat. Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah melimpah. Maka dari itu, setiap Muslim akan bergembira ketika menyambut kedatangannya.

Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh telah datang bulan Ramadhan yang penuh keberkahan. Allah mewajibkan kalian berpuasa di dalamnya. Di dalamnya pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan (Lailatul Qadar). Siapa saja yang terhalangi (untuk mendapatkan kebaikan malam itu, maka sungguh dia telah dihalangi (dari keutamaan yang agung).”

Imam Ibnu Rajab berkata: “Bagaimana mungkin orang yang beriman tidak gembira saat pintu-pintu surga dibuka? Bagaimana mungkin orang yang pernah berbuat dosa (dan ingin bertaubat serta kembali kepada Allah SWT) tidak gembira saat pintu-pintu neraka ditutup? Bagaimana mungkin orang yang berakal tidak gembira saat setan-setan dibelenggu?” (Ibnu Rajab al-Hanbali, Lathaif Al-Ma’arif, hlm 174).

Maka, bagaimana mungkin seorang Muslim tidak merasa gembira ketika bulan Ramadhan tiba? Patut dipertanyakan keimanannya, ketika tidak merasa gembira bulan Ramadhan tiba.

Tentunya tidak terhitung keberkahan pada bulan ini. di antara keberkaan bulan Ramadhan adalah: Pertama, Allah SWT memberikan dua kebahagiaan bagi para ahli puasa, yakni bahagia saat mereka berbuka puasa serta bahagia saat mereka dapat bertemu dengan Allah kelak di hari akhir. “Orang yang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan: kala berbuka dan kala bertemu Allah.” (HR. Muslim).

Kedua, Allah SWT. menjauhkan siksa api neraka dari orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan dan pengampuanan dosa. “Siapa saja yang berpuasa satu hari di jalan Allah, dijauhkan wajahnya dari api neraka sebanyak (jarak) tujuh puluh musim.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

“Siapa saja yang berpuasa pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Ketiga, bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Quran, terdapat pada (QS al-Baqarah: 185).

Keempat, Allah SWT memberikan balasan langsung bagi orang-orang yang berpuasa. “Setiap amalan anak Adam, kebaikannya dilipatgandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Kecuali puasa. Sungguh amalan puasa itu adalah (khusus) bagi-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya karena (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwat dan makanan karena Aku.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Kelima, bulan pengabulan doa. Hal ini terdapat dalam firman Allah SWT QS al-Baqarah, di sela-sela menjelaskan tentang hukum-hukum puasa (QS al-Baqarah: 186).

Keenam, di dalam bulan Ramadhan terdapat Lailatul Qadar. “Sungguh bulan ini (Ramadhan) terlah hadir di tengah-tengah kalian. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang terhalangi dari malam itu, sungguh dia telah terhalangi dari kebaikan secara keseluruhan. Tidaklah terhalangi dari kebaikan kecuali seorang yang rugi (HR. Ibn Majah).

Ketujuh, bulan yang mewajibkan bagi seorang Muslim untuk berpuasa agar meraih takwa. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa (TQS al-Baqarah: 183).

Dari sebagian keberkahan pada bulan Ramadhan ini, sungguh tidak layak bagi seorang Muslim menyia-nyiakan dirinya pada bulan yang di dalamnya begitu banyak kebekahan. Maka wajar jika bulan suci ini merupakan bulan yang sangat dirindukan kehadirannya oleh kaum Muslim.

Ketakwaan adalah derajat yang paling mulia di sisi Allah SWT “Sungguh orang yang paling mulia di antara kalian disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS al-Hujurat: 13).

Karena itu, sangatlah penting bagi seorang Muslim untuk memahami kembali hakikat takwa, tidak sebatas memahami kembali, tetapi harus mengamalkan nilai-nilai ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari juga.

Ketakwaan seseorang dapat terlihat ketika ia mampu menjadikan hukum-hukum Allah sebagai alat untuk menimbang sikap dan perilakunya. Timbangan hukum dalam Islam ada lima, yakni wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram.

Takwa dapat kita analogikan dengan seseorang yang berhati-hati saat melewati jalan yang penuh dengan duri. Cara agar ia terhindar dari tertusuk duri tersebut, maka ia akan menjalani kehidupannya dengan penuh kehati-hatian. Hal ini serupa dengan analogi takwa. Ketika seorang Muslim memiliki takwa pada dirinya, maka ia akan berhati-hati menjalani kehidupannya agar tetap berada di koridor hukum Allah dan tidak terjerumus dalam lubang dosa. “Tidaklah seorang Mukmin mencapai derajat takwa hingga ia meninggalkan hal-hal yang tidak berguna karena khawatir terjerumus pada hal-hal yang haram.” (HR. al-Bukhari, at-Tirmidzi, Ibn Majah, al-Hakim, dan al-Baihaqi)

Maka perlu, bahkan wajib bagi seorang Mukmin menjadikan Al-Quran sebagai petunjuk atas perilaku dalam kehidupan di dunia. Perilaku dalam kehidupan di dunia yang harus selalu berdasar pada Al-Quran di antaranya dalam hal kepemimpinan.

Islam mewajibkan kita untuk menaati Allah, Rasulullah, dan ulil amri, yang merupakan orang yang diamanahi untuk mengatur urusan umat, namun selama masa kepemimpinannya itu tunduk dan berdasarkan Al-Quran dan as-Sunnah. Tidaklah kita wajib taat kepada pemimpin yang tidak menerapkan suatu hukum selain hukum Allah, bahkan menentang hukum Allah.

Oleh karena itu, pada bulan suci Ramadhan ini bukan hanya meningkatkan ketakwaan secara individual saja atau melaksanakan semua perintah Allah SWT dan menjauhi semua larangan-Nya, baik sebelum, selama, hingga sesudah Ramadhan. Melainkan kita juga harus meningkatkan ketakwaan secara kolektif atau meningkatkan ketakwaan penduduk negeri, yakni dengan melaksanakan semua perintah Allah SWT secara totalitas sesuai syariat Islam dalam tataran institusi negara. Dengan cara mewujudkan suatu penerapan sistem dan perundang-undangan sesuai hukum Allah. Sebab inti puasa Ramadhan adalah ketakwaan.

Kemuliaan Ramadhan tidak akan bisa dirasakan dan tidak membawa perubahan apapun bagi kaum Muslim secara total jika tidak didukung oleh ketakwaan sistematik, justru yang muncul adalah sekularisasi dan kapitalisasi Ramadhan. Sebab, para penguasa di negeri-negeri Islam, masih saja menelantarkan rakyatnya, tidak peduli apakah kebutuhan bahan pokok rakyatnya terjamin atau tidak.

Orang-orang yang melakukan korupsi, perjudian, pornografi, pelacuran, pembunuhan, masih saja berjalan di bulan Ramadhan. Sebab, dalam sistem saat ini yang terjadi adalah pemisahan antara agama dengan kehidupan. Padahal ketika umat Islam mencampakkan aturan-aturan Allah, itu sama saja menjatuhkan dirinya ke dalam lubang kenestapaan, kemunduran dan keterpurukan.

Dari ini sudah jelas kegagalan sistem kapitalis sekuler tidaklah memberikan kesejahteraan dan ketenangan bagi umat manusia. Lantas, apakah masih mau kita berharap pada sistem yang sudah jelas kegagalan dan kerusakannya ini? Karena itulah kita harus mengganti sistem yang gagal dan rusak ini dengan sistem yang mampu menyejahterakan umat manusia, yaitu sistem Islam dengan sistem khilafah yang terbukti mampu mengantarkan manusia menuju puncak peradaban, kesejahteraan dan kemakmuran.

Maka dari itu, dalam bulan Ramadhan ini tidaklah cukup bagi seseorang jika hanya menumpuk amalan ruhiyahnya saja, tetapi juga harus memupuk semangat untuk terus bergerak dalam dakwah amar makruf nahi mungkar. Jika memang kita betul-betul ingin mendapatkan ketakwaan yang hakiki, maka tidaklah cukup hanya sekadar memperbaiki diri sendiri. Karena untuk meraih ketakwaan yang hakiki haruslah dilakukan secara sistematis.

Hal ini menjadikan kita harus melakukan dakwah secara jamaah, tidak lagi melakukan dakwah sendiri-sendiri. Sebab yang tidak kalah penting adalah kita juga berkewajiban untuk memperjuangkan syariat untuk diterapkan oleh negara. Dengan begitu barulah bisa terlahir sebuah perubahan, bukan sekadar individu saja, melainkan sampai pada tataran perubahan sistematis.[]

 

 

News Feed