oleh

Kematian dan Syafaat Nabi

Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

Maslahat Umat | Kematian itu ada 2  macam: 1. Mustarih; Kematiannya membuat dia istirahat dari segala derita (Karena iman dan amal saleh); 2. Mustarah minhu; Kematiannya membuat orang yang hidup, bahkan pohon dan hewan, istirahat dari keburukan dan kejahatannya.

Raihlah kematian pertama, jangan kedua.

Dari Abu Qatadah bin Rib’i, dia meriwayatkan bahwa suatu kali lewat jenazah di depan Rasulullah saw. Maka beliau bersabda; ‘Mustarih dan mustarah minhu.’ Mereka bertanya, ‘Apa itu mustarih dan mustarah minhu wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Hamba beriman (dengan kematiannya) istirahat dari derita dunia’ sedangkan orang durhaka (dengan kematiannya) hamba Allah (yang masih hidup), negeri, pohon dan hewan, beristirahat dari (kejahatan dan keburukan)nya.” (HR. Bukhari Muslim)

Antara Syafaat dan Surga

Rasululullah SAW bersabda, “Datang utusan dari Tuhanku, kemudian ia memberikan pilihan kepadaku, antara memasukkan setengah dari umatku ke surga atau syafa’at;  maka aku memilih syafa’at, dan dia (hal itu) untuk umatku yang tidak menyutukankku.” (HR. Tirmidzi dari Abu Musa Al Asya’ari)

Penjelasan: Nabi lebih memilih untuk bisa memberikan syafa’at kepada umatnya, karena dengan syafaat bisa memasukkan umatnya ke surga lebih dari setengah.

Syafaat beraasal dari kata syafa’ yang berarti genap; maka fungsi syafaat nabi adalah untuk menggenapkan jika ada ibadah yang kurang sempurna.

Syafaat ini hanya diberikan khusus kepada Nabi SAW yaitu sebuah tempat yang terpuji yang Allah janjikan kepada beliau dalam firman-Nya: “Mudahan-mudahan Rabbmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al Isra : 79)

Syafa’at diberikan ketika seluruh manusia ketika merasakan kesusahan  yang amat sangat  di padang Mahsyar.

Syafa’at untuk ahli surga tujuannya agar mereka segera masuk ke dalamnya.

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya, dari Anas bin Malik ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,  “Aku orang yang pertama akan memberikan syafa’at untuk masuk surga dan aku nabi yang paling banyak mengikutnya.” (HR. Muslim)

Syafaat diberikan untuk mereka yang amal baik dan buruknya seimbang agar dimasukkan ke dalam surga.

Syafa’at diberikan untuk mengangkat derajat beberapa golongan ahli surga melebihi yang semestinya.

Syafa’at diberikan untuk mereka yang hendak dimasukkan ke neraka agar tidak dimasukkan ke dalamnya.

Syafaat diberikan untuk beberapa kaum agar dimasukkan ke surga tanpa hisab. Diantara dalil syafa’at jenis ini ialah sabda Nabi SAW untuk Ukasyah bin Mihsan saat minta didoakan oleh Nabi SAW agar dimasukkan ke dalam 70.000 orang yang masuk surga tanpa hisab, “Ya Allah jadikanlah  ia termasuk dari mereka.”

Lalu Allah berkata kepada Muhammad SAW dalam hadist syafa’at, “Masukkan sebagian dari umatmu ke dalam surga tanpa hisab dari pintu surga sebelah kanan.” (HR. Muslim).

Tentunya ini setelah syafa’at diberikan.

Syafaat juga diberikan untuk ahli tauhid, pelaku dosa-dosa besar yang telah dimasukkan ke dalam neraka agar mereka dikeluarkan darinya.

Syafa’at Rasululullah juga diberikan untuk meringankan azab yang ditimpakan kepada paman beliau Abu Thalib. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dengan sanad dari keduanya  dari Abu Said Al Khudri bahwa ketika paman Rasul Abu Abu Thalib disebutkan di hadapan beliau, ia bersabda, “Semoga syafaatku kelak di hari kiamat bermanfaat baginya hingga ia ditempatkan di serambi neraka yang membuat otaknya mendidik.” (HR. Bukhari).

Tetapi syafa’at nabi untuk mengeluarkannya dari neraka tidak bermanfaat karena ia meninggal dalam keadaaan kafir.

Dipersembahkan oleh : manis.id

News Feed