oleh

Kehilangan Arah di Tengah Kuliah

Oleh: Nabillah Syifa, | Alumni  Universitas Gunadarma

Maslahat Umat | Saat ini di tengah pandemi banyak kalangan mahasiswa yang merasa salah jurusan, merasa jurusannya yang sekarang tidak sesuai dengan passion-nya. Merasa gundah dengan masalah lain, sehingga tidak bisa memberi fokus 100% di kuliah atau karena terlalu besarnya ekspektasi orang tua dan dosen kepada mahasiswa, atau karena tugas kuliah yang terlalu berat materi-materi kuliah yang susah dipahami. Merasa salah jurusan setelah melihat lulusan jurusan ini memiliki prospek kerja yang sempit. Alhasil ingin pindah jurusan namun apakah itu sebuah solusi?

Setiap keputusan memiliki konsekuensinya masing-masing, baik untuk pindah jurusan atau menetap di jurusan yang sekarang. Orang yang membuat keputusanlah yang harus bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya. Sehingga diperlukan pertimbangan matang sebelum bertindak. Saat memutuskan pindah jurusan, tentunya akan ada waktu yang ‘terbuang’. Dalam memperimbangkan masa depan, harus disadari bahwa jurusan kuliah tidak selalu berhubungan dengan jalan hidup yang akan kalian pilih nantinya.

Jika kita lihat pendidikan zaman sekarang yang menggunakan pendidikan sistem sekuler kapitalisme, yang selalu mengedepankan nilai materi dan memisahkan agama dari kehidupan. Dan jika kita terlusuri kembali dunia perkuliahan mahasiswa dengan kondisi pandemi Covid-19 dengan keadaan yang sulit ini perkuliahan dilakukan secara online. Mereka dituntut untuk memahami berbagai macam mata kuliah dan dituntut untuk mengerjakan banyak tugas juga laporan-laporan dari kegiatan praktiknya sehingga mahasiswa mudah stres, lelah, penat dengan situasi kondisi yang menuntut segalanya.

Apalagi arah mindset setelah lulus yang berorientasi ingin bekerja di tempat perusahaan elit atau korporasi,  alhasil muncul rasa ambisius dari mereka untuk mengejar prestasi dengan meraih nilai IPK setinggi-tingginya dengan berbagai cara yang dilakukan tanpa memahami betul hakikat menuntut ilmu. Sehingga ketika ada gesekan sedikit yang berlawanan dengan keinginannya dan tidak sesuai dengan harapan langsung merasa terpuruk bahkan sampai terlintas dalam hati yaitu merasa salah jurusan. Ditambah dengan minimnya pemahaman agama yang diterima oleh para mahasiswa di bangku perkuliahan. Sebenarnya saat kuliah apa sih yang kita cari? Bagaimana nasib mahasiswa sebagai generasi masa depan sudah luluh lantak diterjang pola pikir dan pola sikap yang jauh dari agama?

Di sinilah letak perbedaan dan bertentangannya pendidikan sistem Islam dengan pendidikan sistem sekuler. Adapun tujuan dari sistem pendidikan Islam membentuk kepribadian Islam yaitu penanaman tsaqafah Islam sebagai pemahaman dan penguasaan ilmu kehidupan atau iptek. Umat Islam diharapkan tidak hanya paham ilmu Islam, namun juga  paham ilmu iptek untuk menyikapi problem yang ada. Dalam artian menerapkan ilmu sebagai amal dalam kehidupan.

Namun, tujuan sistem pendidikan ala kapitalis sekarang ini cenderung mengejar nilai rapor dan mengesampingkan proses pemahaman pada anak, terutama pemahaman     akidah (agama). Wajar jika output pendidikannya jadi berprestasi tapi akhlaknya nol, karena pelajaran hanya dipahami sebagai sarana hafalan dan hafalan semata. Pembinaan karakter anak di kurikulum saat ini tanpa disertai kesungguhan menanamkan nilai-nilai kepribadian Islam akan menghasilkan output anak didik bermental instan, mudah stres, bahkan bisa bunuh diri akibat minimnya keimanan kepada Allah SWT.

Jadi, jika kembali ke pembahasan sebelumnya, bagaimana sikap kita jika terlintas untuk pindah jurusan? Dilihat lagi pertimbangan-pertimbangannya seperti waktu yang sudah kita lalui, besar biaya yang sudah dikeluarkan, apakah kita memang betul-betul tidak nyaman di jurusan, lalu apakah orang tua ridha ketika kita pindah jurusan? Semua itu perlu dipertimbangkan kembali. Dan harus disadari juga jangan sampai masa muda kita selama menjadi mahasiswa hanya dipusingkan atau dibingungkan dengan permasalahan-permasalahan seperti ini karena di luar sana umat membutuhkan kita.

Umat butuh para mahasiswa untuk memperbaiki keadaan sekarang yang kian lama semakin terpuruk. Sebagaimana perkataan Pak Soekarno yaitu ‘Beri aku 9 pemuda maka aku akan menggoncangkan dunia’. Sejatinya memang mahasiswa adalah agen perubahan (agent of change). Juga ketika akhirnya kita mempelajari Islam  dengan senantiasa mengkaji ilmu-ilmu Islam secara kaffah, Insyaallah rasa khawatir seperti salah jurusan atau perasaan hilang arah tadi sangat minim karena kita sudah disibukkan dengan kebaikan. []

 

News Feed