oleh

Kaum Rebahan dan Paham Liberalisme

Oleh: Nabella Septiriani, Alumni Universitas Indonesia

Maslahat Umat | Pemikiran yang sedang meliputi sebuah kampus dapat dilihat dari pembicaraan-pembicaraan yang terjadi di tengah-tengah mahasiswanya. Atau bisa juga kita lihat seperti apa life style-nya. Saat ini banyak mahasiswa memandang berpakaian terbuka aurat, bergaul bebas serta ke tempat-tempat hiburan malam adalah hal biasa.

Baru-baru ini sebuah cerpen bertemakan “elgebete” diterbitkan oleh pers digital mahasiswa UI, Suara Mahasiswa. Hal tersebut menunjukkan virus “elgebete” semakin menyebar ke tengah-tengah mahasiswa. Virus ini tidak lain lahir dari budaya free life style yang sudah sedemikian merasuk di kalangan mahasiswa.

Fakta adanya mahasiswi yang terjerat seks bebas, sampai hal yang dianggap sepele, bagaimana cara mereka berpakaian, cara mereka bergaul dengan lawan jenis, cara berperilaku konsumtif mereka yang sudah mencapai level hedonis (yang penting senang) dan permisif (serba boleh). Hal ini tentu saja sudah mencapai level warning untuk kita.

Apakah kita hanya diam saja membiarkan hal itu terjadi? Jika kita merasa tidak seharusnya membahas hal ini, maka patut mewaspadai diri kita, jangan-jangan paham liberalisme ini juga sudah mulai kita anut baik secara sadar maupun tidak. Na’udzubillahi min dzalik.

Budaya free life style (gaya hidup bebas) atau juga populer dengan sebutan liberalisme adalah paham yang menjunjung tinggi kebebasan dan juga persamaan hak setiap individu dalam berbagai aspek kehidupan, baik di bidang ekonomi, sosial, politik, agama dan juga hal lainnya yang menyangkut harkat hidup orang banyak. Pilar utama liberalisme adalah kehidupan, kebebasan dan hak milik (life, liberty and property). Menurut Paham tersebut titik pusat di dalam hidup ini ialah individu.

Disebabkan karena ada individulah, maka masyarakat tersebut dapat tersusun dan suatu negara dapat terbentuk. Oleh karena itu, masyarakat ataupun negara tersebut harus selalu menghormati dan melindungi kebebasan kemerdekaan individu.

Tidak ada patokan yang terdefinisi secara gamblang tentang batas-batas kebebasan yang diusung oleh paham liberalisme ini. Bahkan penentuan batas-batas kebebasan tersebut dikembalikan kepada masing-masing individu, sehingga sangat mudah patokan itu dibuat-buat berdasarkan penilaian secara subjektif. Sederhananya, penilaian tentang batas-batas baik dan buruk, terpuji atau tercela, bagus atau jelek, boleh atau tidak boleh, itu semua dikembalikan kepada masing-masing individu. Tentu saja hal ini dapat menimbulkan berbagai benturan standar kehidupan di kalangan masyarakat.

Liberalisme telah merasuk hingga ke sendi-sendi pemikiran umat ke berbagai kalangan tak terkecuali mahasiswa. Hal tersebut mengakibatkan tersebarnya gaya hidup permisif (serba boleh), hedonis (serba enak) dan pandangan-pandangan serta gaya hidup lainnya yang sejatinya merusak.

Contohnya saja, pandangan terhadap bebasnya konsumsi makanan dan minuman yang terkategori haram atau yang belum jelas kehalalannya. Bebasnya bergaul dan berkunjung ke tempat-tempat hiburan malam. Bahkan hingga persoalan kecenderungan seksual, liberalisme menganggap sah-sah saja jika menyukai sesama jenis.

Mahasiswa sebagai agent of change, penerus estafet peradaban, jika tak mempunyai filter yang benar terhadap pemikiran sekuler-liberal tentu saja akan menyerap pemikiran tersebut serta pemikiran-pemikiran turunannya, menjadikannya pandangan hidup hingga gaya hidup, serta menjadi corong untuk semakin tersebarnya pemikiran berbahaya tersebut ke tengah masyarakat.

Tak dapat kita pungkiri kini semakin banyak mahasiswa yang menerima ide-ide turunan sekuler-liberal seperti feminisme, women choice, free life style, penerimaan terhadap kaum pelangi (elgebete), sexual consent, gender equality (kesetaraan gender). Bahkan tak lagi menjadi tabu kala perbincangan di tengah-tengah adalah seputar elgebete, hingga tak segan mereka mengadakan komunitas yang membahas hal itu, bukan untuk mengedukasi para penderita elgebete bahwa apa yang terjadi pada mereka adalah sesuatu yang tidak seharusnya, tetapi justru menjadi wadah yang membuat mereka merasa semakin nyaman dengan keabnormalan tersebut.

Hal tersebut terjadi ketika civitas kampus bahkan sampai level negara terkesan membiarkan (jika tidak ingin dikatakan mendukung). Bahkan sekali patut ditekankan, merasuknya paham liberalisme hingga ke berbagai level, termasuk ke level negara adalah akar dari permasalahan yang kian kusut tersebut.

Negara dengan sistem demokrasi adalah ladang subur bagi tumbuhnya pemikiran-pemikiran sekuler dan liberal. Dengan pilar kebebasan berpendapat dan kebebasan berperilaku dalam sistem demokrasi, bagaimana mungkin kita dapat mengandalkan negara untuk mampu menekan tumbuh suburnya para pelaku gay, lesbian, transgender dan teman-temannya? Begitu juga dengan sangat terbukanya kampus dengan pemikiran liberal bisa kita lihat dengan diselenggarakannya mata kuliah khusus yang membahas kesetaraan gender dan elgebete.

Elgebete, hanyalah satu dari buah yang lahir dari rahim liberalisme. Oleh karena itu, menyelesaikan masalah yang terkait paham selain Islam, tidak bisa hanya dari satu sisi saja. Sistematisasi sempurna yang ada dalam Islam, meniscayakan seluruh sistem untuk berjalan melengkapi sistem lainnya.

Kebebasan berperilaku akibat penerapan liberalisme sekularisme, tidak bisa dihilangkan dan diatur dari satu sisi semata, individu misalnya. Seorang pelaku elgebete atau penganut paham kebebasan lainnya tidak cukup diatasi dengan edukasi sebatas faktor individunya, tetapi harus disangga komponen lainnya, yaitu masyarakat yang mengontrol, serta negara yang membuat regulasi aturannya.

Secara individu harus dipahamkan bahwa paham kebebasan liberalisme tidak seharusnya dianut oleh seorang Muslim,  serta dikuatkan sisi akidahnya, masyarakat ikut mengawasi dan mengontrol perilaku individu yang ada di sekitarnya tempat tinggal sekaligus mengondisikan sistem pergaulan di lingkungannya dan negara ikut membuat aturan dan regulasi terkait sistem sosialnya termasuk sanksinya.

Ketiga pilar di atas, tentu mustahil diterapkan dalam sistem demokrasi, sehingga sistem ini terlebih dulu harus dihancurkan. Diganti dengan sistem yang bisa membuat kukuh tegaknya tiga komponen tadi. Sistem itu tak lain adalah sistem Islam yang akan menerapkan semua aturan secara komprehensif dalam bingkai sistem pemerintahan khilafah.

Dengan demikian, bukan hanya soal elgebete akan terselesaikan, tetapi seluruh problematika penyimpangan perilaku dan seluruh mudarat yang timbul akibat hukum buatan manusia akan diminimalisir dan ditangani secara tuntas oleh aturan Ilahi. Wallahu a’lam bishawab.[]

 

News Feed