oleh

Jaringan LSM dan Ormas Bentuk Aliansi Kemanusiaan Indonesia

JAKARTA | Maslahat Umat —  Jaringan-jaringan Organisasi Kemasyarakatan / Lembaga Swadaya
Masyarakat (ORMAS / LSM) membentuk Aliansi Pembangunan – Kemanusiaan Indonesia (APKI) karena panggilan kemanusiaan untuk bergerak dan bekerja sama secara strategis guna melengkapi
dan memperluas respon pemerintah terhadap dampak pandemi, bencana, dan krisis-krisis lain yang
menimpa, terutama, komunitas-komunitas yang rentan dan terpinggirkan.

“Kami, ORMAS / LSM memutuskan untuk secara lebih terorganisasi bersama-sama bersuara di ruang
publik, dan berperan aktif menjadi bagian dari solusi dalam mengatasi krisis” Kata Rahmawati Husein
mewakili para deklarator. Sebagai salah satu pilar demokrasi, ORMAS / LSM sudah dan akan
meningkatkan sumbangsihnya berupa tenaga dan kompetensi, jaringan kerja, nilai luhur dan kedekatan
mereka dengan masyarakat.

Adapun para deklaratornya meliputi: Forum Organisasi Zakat (FOZ); Humanitarian Forum Indonesia (HFI); Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI); Perkumpulan Organisasi Pengelola Zakat (POROZ);
Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) dan Sekretariat Jaringan-antar-Jaringan OMS-LSM (SEJAJAR).

M Ali Yusuf dari Humanitarian Forum Indonesia (HFI) menjelaskan: “ORMAS / LSM menghargai
narasi pemerintah tentang PentaHelix dan manajemen kolaboratif, tetapi itu saja tidak cukup”. AP-KI
merupakan wujud keprihatinan atas respon pemerintah, termasuk kebijakan yang belum sepenuhnya
berpihak pada kelompok rentan, kesenjangan dalam pelaksanaan, dan kurangnya keselarasan antar
sektor dan antara pusat dan daerah. Maka AP-KI akan mengupayakan perubahan struktur kekuatan
dan sumber dana pembangunan dan kemanusiaan, pelibatan pada ranah kebijakan dan advokasi,
penguatan pengorganisasian OMS/LSM termasuk koordinasi lokal berbasis kewilayahan, dan
penggerakan Lumbung Dana.

Dalam hal pendanaan, memang banyak OMS/LSM keagamaan mempunyai basis pendanaan ummat
yang luas, namun merasakan keprihatinan mendalam Hamid Abidin dari Perhimpunan Filantropi
Indonesia (PFI) mengatakan “Lebih dari separuh sejawat OMS / LSM di Indonesia tengah mengalami
krisis eksistensial yang genting”. Situasi ini timbul karena krisis pendanaan akibat terhentinya program
kerjasama internasional dan keterbatasan pendanaan alternatif.

AP-KI menempatkan diri sebagai pemungkin, pendamping dan pendorong kesetiakawanan
masyarakat; mitra strategis pemerintah; sejawat terhadap sesama ORMAS / LSM. Puji Pujiono dari
Sekretariat Jaringan-antar-Jaringan ORMAS / LSM (SEJAJAR) menegaskan: “Ketika berhadapan
dengan pelaku-pelaku internasional dan donor baik pada tataran nasional, regional maupun global,
AP-KI memposisikan diri sebagai wakil sektor OMS/LSM”. Hal ini penting mengingat reformasi
sistem kemanusiaan global sejauh ini gagal mewujudkan pelokalan respon kemanusiaan yang
sekarang justru sangat diperlukan.

AP-KI akan melakukan upaya-upaya strategis tanpa mengurangi atau mengambil alih peran jaringan
anggotanya. “Ini akan dilakukan melalui strategi, antara lain komunikasi publik dan advokasi,
kolaborasi, negosiasi, dan apabila diperlukan, juga aksi” demikian penjelasan Muhammad Yusuf dari
Perkumpulan Organisasi Pengelola Zakat (POROZ).

AP-KI mempunyai keanggotaan yang bersifat terbuka. Dandi Prasetya atas nama Masyarakat
Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI) menyatakan bahwa: ”Kami welcome Jaringan-jaringan
ORMAS / LSM yang menjunjung tinggi nilai-nilai masyarakat sipil”, yaitu nilai-nilai luhur yang
melampaui siklus pergantian politik, wilayah geografis, dan sekat-sekat etnis dan keagamaan terkait
hak asasi manusia, kemanusiaan, kesetiakawanan, kemerdekaan dan martabat, inklusi, keadilan sosial
serta keberagaman dan kesetaraan gender.

AP-KI mengajak semua pihak terutama jaringan-jaringan ORMAS / LSM bekerja sama dan saling
mendukung. “Kita perlu untuk secara kolektif menjadi pelaku pembangunan dan respon krisis yang
berprinsip kemanusiaan, berkesadaran pengelolaan risiko bencana, dan berpedoman pada wawasan
pembangunan berkelanjutan” menurut Bambang Suherman dari Forum Organisasi Zakat (FOZ).

AP-KI memandang bahwa OMS/LSM telah bekerja di berbagai sektor di tingkat lokal, sub-nasional
maupun nasional, dan semakin mumpuni dalam hal teknis, advokasi, maupun penatakelolaan. “Aliansi
memandang keberadaan OMS/LSM di seluruh wilayah Indonesia mempunyai kedekatan dengan
masyarakat sebagai potensi dan sarana dalam memberdayakan, memfasilitasi, dan memberikan
pelayanan yang terbaik kepada masyarakat khususnya kelompok-kelompok dan komunitas yang
rentan.” tutup Sanusi dari Jejaring Mitra Kemanusiaan (JMK). []

News Feed