oleh

Islamophobia Tak Mampu Redupkan Cahaya Islam

Oleh : Dian Salindri | Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok

Maslahat Umat | Kedatangan Silvia Contanza Romano di pangkalan militer Ciampino dekat Roma menjadi sebuah kabar gembira bagi warga Italia, tak ayal kedatangannya disambut langsung oleh Dr. Di Maio yang menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Italia (saat itu) serta Perdana Meteri Giuseppe Conte. Pada November 2018, Silivia Romano yang merupakan seorang relawan berkewarganegaraan Italia diculik oleh kelompok bersenjata di Kenya yang memiliki keterkaitan dengan kelompok bersenjata Somalia dan selama 18 bulan lamanya Romano ditahan disana.

Namun ada yang berbeda dengan penampilannya, Silvia mengenakan kerudung lebar berwarna hijau muda. Ya, Silvia kini telah memeluk islam dan mengubah namanya menjadi Aisyah. Mengenai keputusannya untuk bersyahadat ia bercerita bahwa selama menjadi tawanan ia diperlakukan dengan baik dan waktunya ia habiskan untuk membaca Al-Qur’an. Silvia mengatakan “dalam Islam, aku merasa menemukan perubahan nasib dalam hidup dan ketenangan yang menyelimuti jiwaku.”

Ternyata tak hanya Silvia yang mendapat hidayah dalam tahanan, adapun sophie Petronin seorang relawan berkewarganegaraan Prancis yang mengalami nasib serupa dengan Silvia. Petronin diculik oleh kelompok bersenjata di wilayah Gao Mali Utara pada Desember 2016. Selama hampir empat tahun dalam tawanan akhirnya ia dibebaskan pada 8 September 2020. Kedatangannya disambut langsung oleh presiden Prancis Emmanuel Macron dengan suka cita.

Sama seperti Silvia, penampilan Sophie juga berubah. wanita sepuh berusia 75 tahun itu datang dengan mengenakan kerudung putih yang menutupi kepalanya. Hidayah pun menyapa Sophie saat ia menjadi tahanan. Sayangnya tidak semua warga Italia maupun Prancis menyambut gembira keislmanan mereka. Sama halnya dengan Silvia, Sophie juga harus menjalani penyelidikan oleh pihak berwajib atas perubahan keyakinan mereka. Silvia Romano harus menahan diri atas serangan kebencian yang dilancarkan untuknya di media sosial, ia bahkan dikritik oleh pendukung sayap kanan setelah mempublikasikan keislamannya bahkan seorang anggota parlemen memanggilnya dengan sebutan ‘Neo Teroris’.

Banyak orang tak percaya bagaimana seorang Sophie Petronin penganut katolik berkulit putih asli Prancis bisa masuk islam dalam kurun waktu 4tahun hanya karena ditahan bersama orang-orang muslim. Dari pengakuan Petronin, ia diperlakukan dengan sangat baik selama ditawan “tak sekalipun mereka melecehkan saya. Mereka memberi saya makan dan minum, meskipun aslinya mereka berada dalam kekurangan.” Tulis Sophie dalam sebuah surat terbuka untuk presiden Macron.

Adapun dalam suratnya Sophie menegaskan “Saya tidak ingin mengumumkan keislaman saya saat masih di Mali, agar saya tidak dianggap telah masuk islam karena paksaan dan ancaman. Saya memutuskan mengumumkan ke-Islaman saya setelah tiba di Prancis agar saya bisa mneyampaikan pesan Islam kepada jutaan orang Prancis dan Eropa, sebgaimana juga kepada seluruh umat Kristen dan orang-orang ateis.”

Hidayah milik Allah sepenuhnya, inilah yang dialami oleh dua saudari kita yang mendapat hidayah ditempat yang tak disangka, yaitu dalam masa tahanan. Pengalaman ini tidak hanya dialami oleh Silvia dan Sophie, jauh sebelum mereka banyak tawanan yang menyatakan syahadat karena perlakuan baik kaum muslimin. Karena Islam memuliakan tawanan dan tidak menyiksa tawanan, memberi makan dan minum dengan baik, juga memberikan pakaian yang layak.

Berita mualaf-nya Sophie Petronin layaknya angin segar ditengah gencarnya isu islamophobia yang dihembuskan pemerintah Perancis setelah terjadinya penistaan terhadap nabi Muhammad Saw. yang dilakukan oleh majalah satir asal negara tersebut, Charlie Hebdo. Kasus penistaan yang bukan pertama kalinya dilakukan oleh majalah mingguan yang terkenal kontroversial itu mengakibatkan deretan peristiwa yang semakin menyudutkan umat muslim.

Meskipun demikian sebagai negara yang memiliki sejarah panjang yang bersinggungan dengan daulah islamiyah ini tak mampu membendung cahaya hidayah yang datang kepada setiap rakyatnya yang ikhlas menyambut hidayah tersebut. Karena sekalipun terus ditekan dengan sentiment negatif terhadap islam, pertumbuhan islam di Prancis terus bekembang sepanjang 30 tahun terakhir. Setidaknya ada 10 mualaf setiap hari yang dilaporkan kepada Biro agama di Kementrian Dalam Negeri Prancis. Ini berarti, tak kurang sekitar 3600 orang yang bersyahadat setiap tahunnya di seluruh Pancis.

Harapan-pun datang tak jauh dari negara Napoleon Bonaparte, ibu kota dari negeri para dewa-dewi, Athena. Setelah menanti dua abad lamanya, akhirnya kumandang adzan terdengar di Athena, satu-satunya kota besar di Eropa yang tak memiliki masjid. Sungguh bukan perjuang yang mudah, mengingat adanya pertentangan yang kuat dari gereja ortodoks dan juga kelompok nasionalis.

Sekuat apapun perlawanan kaum kafir yang memusuhi islam, selama masih ada umat islam yang berpegang teguh kepada syariat yang dibawa oleh rasulullah, Muhammad Saw. dan terus mengemban amanah dakwah maka tak akan ada yang sanggup untuk meredupkan cahaya islam. Pun semua yang terjadi atas kehendak Sang Pencipta langit dan bumi. Semoga cahaya islam di langit eropa akan semakin benderang, dan kejayaan islam akan segera terwujud kembali.[]

News Feed