oleh

Islam Solusi Akar Masalah Perempuan

Oleh: Ummu Nada, Dokter Umum

Maslahat Umat | Hari Perempuan Internasional dirayakan pada 8 Maret setiap tahunnya. Di berbagai belahan dunia dilakukan aktivitas, seperti merayakan prestasi-prestasi yang berhasil dicetak perempuan dan menyerukan percepatan kesetaraan gender. Hari perempuan internasional sendiri telah dirayakan sejak 1911 disertai unjuk rasa demi tercapainya hak perempuan untuk bekerja, memilih saat pemilu, mendapatkan pelatihan, memegang jabatan publik dan mengakhiri diskriminasi terhadap perempuan.

Hingga kini masih banyak permasalahan menimpa perempuan yang dikeluhkan pada hari perempuan internasional. Di antara masalah tersebut adalah upah laki-laki dan perempuan pemegang jabatan yang sama masih belum setara, jumlah perempuan dan laki-laki dalam bisnis maupun politik masih belum setara. Selain itu dalam bidang kesehatan, edukasi dan kekerasan perempuan lebih berdampak buruk dibandingkan pada laki-laki.

Budaya patriarki, laki-laki memiliki kontrol atas perempuan dianggap sebagai faktor penting yang menyebabkan ketidaksetaraan gender oleh kaum feminis. Mereka merasa dengan adanya budaya ini, hak-hak perempuan banyak yang tidak terpenuhi yang berujung pada masalah-masalah yang membuat perempuan menderita. Adanya masalah pada perempuan ditambah dengan kebijakan pemerintah yang kurang solutif terhadap permasalahan yang menimpa perempuan menjadikan kaum feminis menyerukan kesetaraan gender sebagai solusi.

Dalam mencari penyelesaian masalah, perlu digali akar penyebab permasalahan pada perempuan. Kapitalisme sekuler, suatu sistem yang makna kebahagiaan mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya dan mendapatkan kepuasan fisik sebesar-besarnya, menganggap perempuan sebagai peluang untuk dijadikan komoditas demi keuntungan. Perempuan dijadikan komoditas untuk menghasilkan keuntungan materi dan dianggap tidak berharga bila tidak dapat menghasilkan keuntungan. Hal ini mengakibatkan berbagai permasalahan yang dapat menimpa perempuan, seperti kemiskinan, kekerasan rumah tangga dan pelecehan di tempat kerja.

Semakin digaungkannya kesetaraan gender, semakin banyak masalah baru yang yang muncul. Perempuan semakin termotivasi untuk bersaing dengan laki-laki dalam karier sehingga meninggalkan peran vital sebagai pengurus rumah tangga yang berdampak pada banyaknya perceraian dan anak yang terlantar. Banyak feminis yang menuntut hak perempuan sampai di beberapa negara, aborsi sudah dilegalkan, menjadikan pergaulan bebas semakin marak.

Adanya kesetaraan gender juga berdampak pada psikis perempuan yang menjauh dari fitrahnya sehingga mengalami gangguan kejiwaan seperti stres dan depresi. Lebih parah lagi Islam dikambinghitamkan sebagai penyebab dari ketidaksetaraan gender akibat banyak hal dari budaya patriarki yang berasal dari Islam. Hal ini menyebabkan banyak Muslimah mulai menjauh dari Islam dan menjadi fobia Islam.

Permasalahan kesetaraan gender sendiri tidak pernah dijumpai dalam Islam sebelumnya. Penentu ketinggian derajat dalam Islam adalah amal soleh dan ketakwaan, bukan gender. Seperti pada Surah alHujurat ayat 13 yang memiliki arti: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Dalam Islam perempuan memiliki kedudukan yang mulia dan perlu dijaga. Adanya aturan Islam bukan untuk mengekang perempuan, tetapi untuk penjagaan. Tidak ada pengekangan pada perempuan dalam perkara-perkaran umum seperti halnya pada laki-laki. Contohnya dalam menuntut ilmu, bekerja dan lainnya. Muslimah boleh memiliki pekerjaan tertentu sesuai keahliannya, tetapi tidak wajib mencari nafkah. Perempuan wajib diberi nafkah oleh walinya dan negara memfasilitasi dengan memudahkan wali dalam mendapatkan pekerjaan. Apabila perempuan tidak memiliki wali, kewajiban memenuhi nafkah menjadi tanggung jawab negara.

Dalam Islam, perempuan memiliki peran yang sangat penting sebagai ummu wa rabbatul bait (ibu pengatur rumah tangga) dan madrasatul ula (madrasah pertama anak).  Hal ini menjadikan standar kesuksesan adalah keberhasilan dalam mencetak generasi yang cemerlang dengan ilmu, menjadikan perempuan mesti memiliki taraf berpikir yang tinggi. Dalam Islam istri wajib taat kepada suami selama tidak bertentangan dengan syariat Islam. Islam juga menjamin perempuan mendapat perlakuan yang layak dari laki-laki seperti melarang pelecehan dan pelanggaran kehormatan lainnya.

Hari Perempuan Internasional dengan kampanye kesetaraan gendernya selamanya akan berkutat dalam permasalahan yang sama karena bukan solusi terhadap akar permasalahan yang menimpa perempuan. Hari Perempuan Internasional bagian dari propaganda internasional yang sejatinya menjauhkan perempuan dari fitrahnya sebagai perempuan. Perempuan hanya dianggap sebagai materi/manfaat atau pencari materi/manfaat semata. Islam adalah solusi dari Allah ST terhadap segala permasalahan, termasuk yang menimpa perempuan. []

 

News Feed