oleh

Islam Inspirasiku dan Aspirasiku

Oleh: Azizha Nur Dahlia | Mahasiswi Universitas Bina Sarana Informatika

Maslahat Umat | Apakah Anda seorang muslim sejati? Apakah Anda tahu sebetulnya apa itu Islam? Dan tahukah Anda Islam turun dengan segala kesempurnaannya?

Secara bahasa Islam berasal dari kata aslama yang berarti tunduk, pasrah, atau menurut. Sedangkan makna Islam secara syar’i adalah diin yang diturunkan oleh Allâh kepada Nabi Muhammad SAW yang mengatur hubungan manusia dengan Allâh, dengan dirinya sendiri dan dengan manusia lainnya.

Definisi secara istilah ini mengandung tiga hal penting. Pertama, Islam sebagai ‘agama yang diturunkan Allah’ bermakna, semua agama yang  bukan berasal dari Allah bukanlah agama Islam. Kedua, Islam diturunkan ‘kepada Nabi Muhammad SAW’ artinya, segala agama yang disampaikan selain dari Nabi Muhammad SAW bukanlah agama Islam.

Ketiga, yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, dengan dirinya sendiri dan dengan sesama manusia yang meliputi seluruh aspek; mulai dari urusan dunia sampai akhirat; baik yang menyangkut dosa, pahala, surga neraka maupun ibadah, ekonomi, sosial, politik budaya, pendidikan  dan sebagainya.

Jadi ajaran Islam itu tidak hanya menyangkut hubungan dengan Allah saja namun seluruh aspek kehidupan manusia. Islam mengatur dari yang terkecil sampai yang terbesar, baik ranah individu hingga bermasyarakat. Islam tidak bisa dipisahkan dari kehidupan yang seperti hari ini diterapkan bahwa adanya pemisahan agama dari kehidupan. Islam menolak parsialisasi seperti ini.

Islam yang dibawa oleh Nabi terakhir ini bukanlah perkara yang diada-adakan namun turun dari Sang Pencipta yang dituliskan melalu Al-Qur’an. Tulisan itulah wahyu dari Allah SWT pun isinya bukan tulisan biasa melainkan adalah sumber kehidupan, jawaban atas persoalan kehidupan tak terarah ini.

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Maidah: 3)

Islam dibawa oleh Nabi terakhir, semoga Allah merahmati Rasulullah SAW juga keluarganya dan tidak ada seorang lagi yang membawa ajaran Allah. Maka, jelaslah Islam sudah disusun secara sempurna, tidak ada wahyu yang turun lagi untuk memperbaiki atau melengkapi.

Jika diperhatikan syariat Islam ‘yang itu-itu saja’; tidak akan pernah berubah. Yang haram akan tetap haram, yang halal akan tetap halal. Tidak mungkin ada perkara di suatu zaman yang haram lalu tiba-tiba di lain zaman menjadi halal, begitu pun sebaliknya. Syariat Islam sampai kapan pun akan begitu adanya sampai kiamat datang, karena wahyu Allah sudah terputus dan Islam sudah sempurna.

Justru bagi seseorang yang mengatakan bahwa Islam ketinggalan zaman dan perlu diperbaharui ini merupakan anggapan yang keliru. Dalam kitab Al-fikr al-Islam karya M. Muhammad Ismail bahwa karakteristik ajaran Islam sangat berbeda dengan ideologi dunia yang lainnya. Hukum Islam dibangun atas dasar nas-nas syariat yang tetap. Dalam Islam, nas-nas syariat merupakan sumber hukum yang kemudian menghukumi realitas.

Sebaliknya dalam ideologi Barat, realitaslah yang menjadi pijakan hukum yang kemudian menghasilkan produk hukum yang sesuai dengan (mengakomodasi) realitas. Akibatnya, hukum produk ini berubah-ubah dari waktu ke waktu dan berbeda-beda antara satu tempat dan tempat lain, sehingga tiada yang final. Ini adalah konsekuensi dijadikannya realitas (yang terus berubah dan berkembang) sebagai pijakan hukum.

Hal tersebutlah yang menjadikan sistem pada hari ini mejadi rusak parah, karena hukum yang diberlakukan adalah tambal sulam sesuai dengan keinginan hati penguasa. Ajaran Islam tak dijadikan sumber hukum, ia tak ubahnya seperti pemanis saja.

Penerapan Islam sebagai sumber kehidupan juga dicegah oleh orang-orang yang mengidap Islamophobia. Pasalnya mereka takut apabila Islam berkuasa mereka akan dibunuh secara keji seperti yang digembor-gemborkan musuh Islam. Padahal Islam diturunkan untuk seluruh umat manusia di dunia, dari ujung barat sampai ujung timur karena Islam adalah Rahmatan lil ‘alamin.

Ajaran Islam pun diberlakukan untuk manusia bukanlah karena faktor suku, etnik, geografis ataupun faktor Arab ataupun non Arab. Dan ini telah dibuktikan selama hampir 1400 tahun hampir ¾ dunia diselimuti oleh rahmat Islam yang di bawahnya begitu banyak negara, etnik, suku juga bahasa namun bisa hidup damai dalam aturan Islam.

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullâh al-Ansari ra katanya: Rasulullâh bersabda: “Aku diberi lima perkara yang tidak pernah diberikan kepada seorang Nabi pun sebelumku. Semua Nabi

sebelumku hanya diutus khusus kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus kepada manusia yang berkulit merah dan hitam …..” (THR. Bukhari dalam kitab Tayamum, hadits nomor 3323).

Suara nasionalismse yang hari ini juga digaungkan sebagai tanda ikatan kebangsaan sebagai penjaga keberagaman nyatanya malah mengancam keberagaman itu tersendiri. Dalam Kitab Nidzamul Islam karya Taqiyyuddin an-Nabhani ikatan nasionalisme yang tergolong paling lemah dan rendah nilainya.

Ikatan nasionalisme muncul ketika ada ancaman pihak asing yang hendak menyerang atau menaklukkan suatu negeri. Tetapi bila suasananya aman dari serangan musuh atau musuh tersebut dapat dilawan dan diusir dari negeri itu, sirnalah kekuatan ini. Karena mutu ikatannya rendah, sehingga tidak mampu mengikat antara manusia satu dengan yang lainnya untuk menuju kebangkitan dan kemajuan.

Namun hanya Islamlah yang bisa mewujudkan hal tersebut baik menjawab persoalan yang terjadi sepanjang masa juga sebagai rumah bagi berbagai macam keberagaman. Islam bersifat Insaniyah (manusiawi), sesuai dengan fitrah manusia, dengan aturan yang amat terperinci itu bukanlah untuk mengekang namun untuk mengakomodir seluruh kebutuhan manusia. Hal itu akan membuat terpenuhinya semua kebutuhan manusia secara fitrah yang akan membawa kesejahteraan dalam kehidupan. Islam juga  bersifat aplikatif, yang artinya setiap Muslim harus mengamalkan dan menerapkan semua ajaran Islam bukan hanya untuk dipelajari saja.

Dengan kesempurnaan Islam itu sayang sekali kalau hanya untuk sekedar diketahui saja. Konsep Islam yang sudah tersedia ini harus direalisasikan secara nyata, karena baru terasa indah apabila sudah digunakan. Maka dengan melanjutkan kemballi kehidupan Islam inilah keindahan bisa terwujud dan satu-satunya cara adalah dengan menegakkan Daulah Islam. Dan hal itu tidak dapat diraih kecuali dengan menggunakan Islam secara utuh bukan parsialisasi. Maka, Islam  inspirasiku dan aspirasiku. []

 

News Feed