oleh

Islam Agama Perlawanan

Oleh: Yons Achmad, Kolumnis, tinggal di Depok

JAKARTA | Maslahat Umat — Berdustalah mereka yang hanya menikmati bersembahyang, namun melupakan nasib orang-orang yang tersingkirkan dan menderita secara sosial. Spirit ini saya dapatkan ketika membaca sebuah buku kecil tapi menarik, berjudul “Islam yang Memihak” (2005) karya Moeslim Abdurrahman, intelektual muslim dari keluarga petani Muhammadiyah.

Dikatakan bahwa perubahan sosial yang timpang, proses alienasi yang menyingkirkan banyak orang secara sosial ekonomi, rasanya janggal kalau agama tidak membaca kemungkaran sosial dengan menumbuhkan kesadaran (self-conciusness) yang memihak kepada mereka yang lemah.

Saya kira, hal ini benar adanya. Memang tidak salah ketika para ulama, tokoh agama menekankan pentingnya menjalani kehidupan yang saleh secara rohani dan spiritual dengan beragam ibadah transendental. Hanya saja, hal ini hanya berhenti kepada hubungan diri dan Tuhannya. Berbeda ketika seseorang yang beragama, punya gejolak iman yang selalu risau dengan penderitaan orang-orang yang tergusur, lapar karena problem struktural, karena kebijakan pemerintah yang salah serta tertindas secara sistemik dalam kehidupan dengan himpitan kapitalisme yang semakin menyeruak di depan mata.

Agama, dalam hal ini Islam dengan demikian asalnya memang sebagai agama perlawanan. Konsekuensinya, keberagamaan yang mesti kita bangun tak hanya sekadar bisa mengobati dahaga spiritual dengan memimpikan surga bagi dirinya semata. Tapi, ketika muncul gejolak untuk peduli terhadap nasib sesama, sepertinya itulah jalan keberagamaan yang selaras dengan spirit agama itu sendiri. Singkatnya, seperti doktrin dalam Islam Pencerahan, kesalehan pribadi itu penting bagi dirinya, tapi kesalehan sosial diperlukan demi mengejawantakan keberagamaan yang bisa memanusiakan manusia.

Wacana Islam perlawanan atas beragam penindasan ini memang pernah mengemuka dalam pemikiran Islam. Mulai dari Sosialisme Islam Tjokroaminoto, Sosialisme Religius Mohammad Hatta, Kiri Islam Hasan Hanafi sampai Sosialisme Islam Ali Syariati. Apa hasilnya? Kurang memuaskan? Kenapa? Para pemikir Islam itu mencoba mengkombinasikan antara sosialisme dan Islam. Padahal, keduanya berbeda. Itu sebabnya, perlu mengembangkan sayap kepercayaan diri untuk menggali pentingnya keberpihakan dalam beragama ini melalui Islam itu sendiri, bukan merujuk kepada yang lain.

Memenuhi dahaga intelektual bagaimana Islam bicara anti penindasan dan perlunya keadilan, konsep Sayid Qutb tentang keadilan Islam, seorang pemikir muslim asal Mesir seperti dijelaskan Ashad Kusuma Djaya (2016) dalam buku “Islam Bagi Kaum Tertindas” menarik untuk dicermati. Dikatakan bahwa Islam membebaskan jiwa dari perbudakan, ketakutan dalam kehidupan dan rezeki. Bahwa dalam Islam, yang dihormati bukan orang kaya apalagi investor berwatak kapitalis, tapi orang yang bertaqwa, beriman dan beramal saleh.

Mencermati kondisi terkini. Di Indonesia, telah disahkan Undang-Undang Cipta Kerja dalam kerangka besar omnibus law. Undang-Undang yang wajahnya tampak manis tapi menyimpan begitu banyak problem penindasan. Seperti mengarah kepada perbudakan modern, penghambaan terhadap para investor (kapitalis), belum lagi punya dampak bagi kerusakan alam jika undang-undang diterapkan.

Maka, keberagamaan yang baik adalah melakukan perlawanan. Aksi demonstrasi menentang ketidakadilan dibenarkan. Selanjutnya, melakukan melakukan perjuangan jihad konstitusi agar undang-undang itu dibatalkan lewat prosedur yang berlaku. Akhirnya, perjuangan memang masih panjang demi tegaknya keadilan di negeri ini. []

News Feed