oleh

Ingin Pandemi Cepat Berlalu? Segera Tobat, Tinggalkan Maksiat

Oleh: Syifa Nailah Muazarah, S.Si., Alumni Astronomi ITB

Maslahat Umat | Sudah 7 bulan Indonesia mengalami kondisi tidak biasa dengan kehadiran Covid-19 yang semakin merebak di berbagai penjuru negeri ini bahkan dunia. Indonesia dan dunia tentu sedang tidak baik-baik saja. Angka infeksi virus baru ini terus meningkat diiringi dengan peningkatan jumlah kematian yang cukup signifikan di negeri ini, terutama di kota-kota besar tempat populasi dan distribusi manusia yang padat dan sibuk.

Corona telah mempengaruhi bukan hanya kesehatan rakyat Indonesia, tetapi juga ekonomi yang makin hari makin lesu. Akan tetapi 7 bulan berlalu, tidak kunjung tampak akhir tanda tanya besar dari ujian pandemi ini. Seruan bertaubat mulai bergema dari tokoh-tokoh masyarakat. Terbaru, Presiden Jokowi juga mengingatkan masyarakat untuk bertaubat kepada Allah Ta’ala agar musibah pandemi ini segera diangkat dari Indonesia.”Kita tidak boleh melupakan zikir, istighfar dan taubat kepada Allah ta’ala,” kata Jokowi pada pembukaan Muktamar IV PP Parmusi 2020 di Istana Bogor.

Pandemi  Covid-19 yang tak kunjung berakhir dan berbagai kekacauan di hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat hari ini tentu merupakan satu bentuk peringatan dari Allah atas kemaksiatan ataupun kelalaian yang dilakukan manusia. Maka dalam menghadapi musibah pandemi ini kaum Muslimin harus lebih meningkatkan muhasabah atas kelalaian dan kemaksiatan yang dilakukan. Melakukan muhasabah tentu dibarengi dengan taubat dan perbaikan.  Menyadari kelalaian dan kemaksiatan kepada Allah tapi enggan berubah dan bertaubat hanya akan memperpanjang kesempitan hidup dunia dan tentunya kecelakaan hidup di akhirat kelak.

Muhasabah atau perenungan atas kesalahan apa yang kita perbuat sebagai hamba Allah serta kemaksiatan dan kelalaian seperti apa yang masih terus berulang dalam kehidupan masyarakat kita. Jika kita merenungi lebih dalam, akan kita dapati bahwa kemaksiatan terbesar yang dilakukan oleh kaum Muslimin dan umat manusia hari ini adalah tidak ditegakkannya hukum Allah  di dalam sistem kehidupan kita.

Padahal Allah telah memperingatkan manusia dari jauh-jauh hari dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 96: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Makna beriman dan bertakwa Allah  jelaskan dalam Surah An-Nisa ayat 65, “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima sepenuhnya.”

Juga dalam surah Al-Maidah ayat 49,“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebaguan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah) maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.”

Jelaslah bagi kita bahwa musibah yang diturunkan Allah ta’ala adalah bentuk peringatan atas dilalaikannya hukum-hukum Allah  di muka bumi ini. Kemaksiatan dan kelalaian terbesar bagi kaum Muslimin hari ini ketik tidak menjadikan hukum Allah sebagai pengatur sistem kehidupan  di seluruh aspeknya. Sehingga taubat yang dilakukan oleh kaum Muslimin bukan sebatas pada memohon ampunan kepada Allah, tapi juga bersegera menjalankan hukum-hukum syariat Allah.

Tengoklah bagaimana Khalifah Umar bin Khattab ketika musibah kemarau panjang dan musibah penyakit menular pada masa kepemimpinannya. Disamping terus berikhtiar dengan mengobati, melakukan isolasi syar’i, Umar bin Khattab juga meningkatkan taubat dan mengajak umat Islam untuk sama-sama bertaubat kepada Allah ta’ala. Di sisi lain, Umar bin Khattab terus melakukan penjagaan terhadap penerapan hukum Islam bahkan dalam menangani wabah tersebut.

Khalifah Umar melakukan tindak pengobatan dan pencegahan juga penjagaan terhadap kebutuhan pangan dan ekonomi warga Daulah Islamiyyah dengan hukum-hukum dari Allah ta’ala yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Sehingga penyelesaian yang didapat oleh umat manusia pada saat itu adalah penyelesaian yang konkrit dan bahkan mengundang berkah dari arah yang tidak terduga bagi kekuasaan Islam pada saat itu. Hal ini adalah dampak dari penerapan hukum Islam yang menyeluruh yang dilakukan baik oleh Pemimpin negara dan masyarakatnya. Keberkahan yang dilimpahkan Allah ta’ala sebagaimana yang dikabarkannya dalam Surah Al-A’raf ayat 96. []

 

 

News Feed