oleh

Hukum Sosial Media dalam Islam, Dari Chatting to Dating

Oleh: Nabilah S.,  | Alumni Universitas Indonesia

Maslahat Umat | Hidup kita yang lekat banget dengan smartphone, terlebih saat sedang kondisi pandemi seperti ini, membuat banyak aplikasi diciptakan buat mempermudah aktivitas kita, mulai dari aplikasi untuk belajar online sampai mencari pasangan. Nah, hal ini juga membuat mahasiswa ‘terdistraksi’ oleh kehidupan online. Interaksi sosial di dunia nyata yang terasa kurang, membuat mahasiswa merasa jenuh, rentan stres dan depresi yang akhirnya menjadi dalih untuk pengalihan ke media sosial, baik sekadar hiburan atau mencari teman di dunia maya.

Selain itu, banyak juga teman mahasiswa yang mengalami chattingan atau ngobrol online atas dasar urusan organisasi, tetapi bisa rapat seharian dari pagi sampai malam atau mungkin jadi curcol yang menyerempet ke hal pribadi.

Terlebih lagi sekarang banyak banget aplikasi kencan dan jodoh online yang tidak asing di tengah kita, contohnya aplikasi Tinder, OkCupid, Plenty of Fish dan yang lainnya. Aplikasi-aplikasi tersebut meng-klaim bisa memasangkan para jomblo di seluruh dunia, bahkan hingga berlanjut ke jenjang pernikahan.

Maraknya chatting online baik dengan orang yang dikenal maupun menggunakan aplikasi kencan dan jodoh online tidak hanya untuk mencari hubungan namun juga untuk sekadar teman ngobrol, mencari teman belajar yang didasarkan karena kebosanan mahasiswa dengan perkuliahan dan organisasi yang serba daring.

Hukum sosial media dalam Islam

Hukum sosial media dalam Islam itu sebenarnya mubah, tetapi ketika menghantarkan kepada keharaman ya bisa jadi haram, yaitu saat konten yang kita tonton, share dan yang lainnya mengandung keharaman. Jadi kita mesti selektif filtering kebutuhan kita. Begitu pun interaksi yang kita lakukan dalam sosial media juga harus ada batasan yang sesuai dengan aturan Allah. Jangan sampai media sosial yang awalnya buat membantu kerjaan dan tugas kuliah malah jadi bumerang yang menjerumuskan kita pada dosa.

Selain itu, dalam Islam yang namanya khalwat (berdua-duaan dengan lawan jenis) dan ikhtilat (bercampur baur dengan yang bukan mahramnya) dengan maksud dan tujuan yang tidak jelas tentu tidak diperbolehkan, hukumnya haram. Mau hal itu dilakukan dengan bertemu langsung atau lewat aplikasi kayak sekarang, apalagi kalau berujung pada perzinaan tentu akan tetap haram.

Allah SWT berfirman:“Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra Ayat 32)

Khalwat dan ikhtilat itu merupakan aktivitas mendekati perzinaan, sehingga hal tersebut jelas sebuah kemaksiatan dan mengantarkan pada banyak keburukan.

Namun, namanya manusia sebenarnya sah-sah saja jika ingin memiliki pasangan hidup, tidak mau sendirian dan suka terhadap lawan jenis. Hal tersebut merupakan naluri yang diberikan Allah kepada kita semua, yang disebut dengan gharizah nau’. Tapi bagaimana cara kita untuk memenuhi naluri tersebutlah yang nantinya akan dihisab oleh Allah. Allah itu memantau kita baik offline maupun online. Jangan merasa mentang-mentang tidak ada yang lihat terus kita bebas bergerilya melakukan yang seharusnya tidak kita lakukan, karena Allah Maha Melihat, meski di tempat paling tersembunyi sekalipun.

Maka dari itu, kita harus menjaga interaksi dengan non-mahram dengan cara, yaitu menjaga aurat (terhadap lawan jenis), menghindari berdua-duaan, tundukan pandangan, tidak melembutkan suara (ketika berbicara dengan lawan jenis gunakan nada yang tegas dan jelas), dan tidak saling curhat mencurhat.

Tapi kenapa interaksi antar non-mahram malah difasilitasi dengan banyaknya aplikasi chatting online seperti sekarang?

Begitulah yang terjadi jika kita menggunakan aturan hidup selain Islam. Sistem hari ini melahirkan individu-individu yang mengedepankan hawa nafsu dan kesenangan dunia. Sistem sekuler-kapitalisme yang tertanam saat ini telah memisahkan kehidupan dari aturan beragama. Tolak ukur benar/salah bukan lagi mengenai halal dan haram. Tolok ukur benar-salah yang masih menganggap ‘tidak ada salah/benar yang mutlak dalam kehidupan ini’. Tolok ukurnya hanya untung/rugi.  Akhirnya para pemuda saat ini gagal paham sama agamanya dan syariat Islam.

Begitu pun dengan adanya paham liberalisme, membuat pemuda Muslim menjadi berbuat bebas sesuka hati dalam hidupnya, termasuk memenuhi nalurinya.

Nah, sudah individunya minim pemahaman agama, masyarakat saat ini juga apatis, tidak peduli satu sama lain meskipun ada kemaksiatan yang terjadi, masyarakat pun memilih untuk diam dan membiarkannya. Kita dibuat biasa dengan hal-hal yang tabu (free sex, pacaran dan sebagainya) dengan dalih kebebasan. Katanya sih ‘bukan urusan saya’, ‘mau rugi atau untung, kan itu hidup dia’, ‘selama saya tidak dirugikan, tidak masalah’, ‘dunia begini adanya’.

Padahal Islam jelas mengatakan dalam kehidupan masyarakat, kita itu seperti kesatuan layaknya penumpang dalam sebuah kapal. Jika ada satu orang saja yang melubangi kapal, maka seluruh penumpang kapal akan tenggelam.

Ditambah lagi, negara tidak peduli dengan semua ini. Tidak ada upaya yang dilakukan untuk melindungi generasi muda. Penguasa tidak peduli jika para generasi mudanya mau terjerumus ke dalam kemaksiatan atau tidak. Aplikasi-aplikasi perusak keimanan dan ketaatan para pemuda pun dibebasin bertebaran. Tidak ada pengaturan dari negara untuk memfilter konten yang bisa mengedukasi masyarakat.

Sehingga dapat dilihat kurangnya pemahaman masyarakat mengenai pemahaman Islam (batasan dan aturan detailnya) dibarengi dengan tidak adanya kontrol sosial dan juga peran negara, ya lengkap sudah generasi muda makin teraruskan oleh liberalisasi dan sekulerisasi saat ini.

Kalau di Islam sendiri, bagaimana cara mengatur gharizah nau’ kita? Dan bagaimana solusi menyeluruhnya? Nah, Islam sudah jelas mengatur gharizah nau’ hanya boleh dipenuhi dengan ikatan pernikahan. Inilah alasan pentingnya kita untuk mengkaji Islam dan menaati aturan Islam secara menyeluruh agar hidup kita jelas, paham mengenai cara menyelesaikan permasalahan hidup yang benar dan tidak terjerumus pada kemaksiatan.

Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surah al-Ahzab Ayat 36 yang artinya, “Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang Mukmin dan perempuan yang Mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.

Selain itu, peran masyarakat yang selalu melakukan amar ma’ruf nahi mungkar juga sangat penting buat menghindarkan pemuda dari kerusakan. Dan yang utama adalah kepeduliaan dan kepekaan negara untuk melindungi pemuda. Negara seharusnya mengontrol dan mencegah aplikasi-aplikasi yang memfasilitasi kemaksiatan, bahkan jadi sumber kemaksiatan. Negara juga harus menyibukkan dan mengondisikan pemudanya dalam hal-hal yang produktif, seperti belajar Islam dan menekuni ilmu pengetahuan. Kondisi ideal ini hanya bisa terwujud dalam negara yang menerapkan Islam secara menyeluruh.

Peran Mahasiswa dan Kawula Muda

Peran mahasiswa, kawula muda adalah dengan dakwah. Kita tidak bisa menutup mata, lalu menganggap kalau kita tidak ikutan pasti selamat. Jadi, harus speak up.

Dakwah adalah mengajak manusia ke jalan Allah SWT. Di dalamnya termasuk seruan amar makruf nahi mungkar. Dakwah hukumnya wajib. Setiap pribadi Muslim yang telah balig dan berakal, baik laki-laki maupun wanita, diperintahkan untuk berdakwah. “Karena itu berdakwahlah dan beristiqamahlah sebagaimana diperintahkan kepada kamu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (TQS asy-Syura [42]: 15)

Islam kaffah tidak mungkin bisa diterapkan di sistem sekuler-kapitalisme hari ini. Berjuang mengembalikan Islam dalam kehidupan memang bukan hal yang mudah, tapi tidaklah mustahil. Nah makanya mari kita mengkaji Islam secara menyeluruh dan mengikuti pembinaan Islam dengan serius. Belajar dan menuntut ilmu Islam itu fardhu ain. ”Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Hanya hukum yang berasal dari Allah yang boleh digunakan. Maka, berlomba-lombalah dalam memperjuangkan Islam agar diterapkan di muka bumi ini. Bergabung dengan kelompok dakwah. Berjuang bersama-sama dalam menyadarkan umat betapa penting dan butuhnya kita terhadap aturan Islam. Jangan malu untuk menunjukan identitas kita sebagai Muslim kaffah dan jangan malu untuk menjadi pengemban dakwah Islam.

Yuk, bersama-sama jadi penyelamat umat. Jadikan tujuan hidup kita mulia untuk meraih surga-Nya. Saat ini dunia memang nyata, namun kita tidak bisa kekal didalamnya, karena sejatinya yang kekal itu hanya akhirat kelak. []

 

News Feed