oleh

Hukum Memindahkan Jenazah ke Kota Lain untuk Dimakamkan

Diasuh oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

Maslahat Umat | Ustadz, saya mau bertanya mengenai mayit/ mayat. Menurut saudara saya yang ikut mazhab salafi bahwa mayat tidak boleh safar contohnya orang meninggal di Jakarta tapi dibawa ke kampungnya untuk dikubur di Purworejo dll. Itu katanya TIDAK boleh, jadi mesti dikubur di lingkungan dia meninggal itu, apakah itu betul ustadz?

Jawaban

Menguburkan mayit di daerah bukan tempatnya adalah hal yang diperselisihkan para ulama. Sebagian salaf ada yang mengalaminya, misal Sa’ad bin Abi Waqash Radhiallahu ‘Anhu, Beliau wafatnya di Al ‘Aqiq (wafatnya di Cina adalah berita tanpa dasar), tapi dikuburkan di Madinah.

Salah satu ulama Malikiyah, yaitu Syaikh Muhammad ‘Ulaisy Al Maliki dalam Fathul ‘Aliy mengatakan: Di dalam Syarh Al Majmu’, bahwa dibolehkan memindahkan mayit ke daerah lain sebelum di kubur atau sesudahnya, jika tidak terjadi hal yg dapat merusak kehormatannya. Jika terjadi, maka haram memindahkan sebelum menguburkannya. Ibnu Habib mengatakan boleh memindahkan mayit yang wafatnya di pedalaman ke daerah pemukiman, dan dari suatu daerah ke daerah lain.

Sa’ad bin Abi Waqash wafat di Al ‘Aqiq lalu dia di bawa ke Madinah. Diriwayatkan oleh Ibnu Wahab. Diriwayatkan bahwa tidak masalah dipindahkan ke negeri yang dekat. (selesai)

Dalam Mukhtashar Al Khalil dikatakan: Dibolehkan memindahkan mayit sebelum penguburan dari tempatnya ke tempat lain, dengan syarat tidak merusak kondisinya saat pemindahannya, dan tidak merusak kehormatannya, dan juga dibolehkan jika ada maslahat seperti khawatir dimakan hewan laut (jika dia wafat di laut), atau berharap keberkahan di tempat yang dituju, atau ingin di kubur dekat dengan keluarganya atau supaya dekat diziarahi oleh keluarganya. (selesai)

Ada pun Hambaliyah, mereka memakruhkan jika tanpa keperluan yg dibenarkan, tapi jika ada hajat yg dibenarkan maka boleh (Imam Al Mardawi, Al Inshaf, 6/249). Hanafiyah mengatakan makruh, jika lebih dari dua mil. (Imam Syarunbalali, Maraqi Al Falah, Hal. 227). Sementara Syafi’iyah ada dua pendapat, ada yg mengharamkan dan ada yang memakruhkan. Namun, mereka membolehkan jika ke daerah tetangga yang masih bersambung atau berdekatan. (Imam Ar Ramli, Nihayatul Muhtaj, 3/38)

Demikian. Wallahu a’lam

News Feed