oleh

Hari Gini Masih Gabut?!

Oleh: Fatimah Azzahrah Hanifah | Mahasiswi Universitas Indonesia

Maslahat Umat | Terhitung sudah sembilan bulan kita menjalani rutinitas yang abnormal, sejak Maret 2020 hingga menjelang akhir 2020. Waktu dari pagi hingga sore yang biasanya kita habiskan di sekolah, kampus, ataupun kantor, saat ini kita habiskan di rumah saja. Kondisi ini tentu membuat kita memiliki lebih banyak waktu luang bukan? 24 jam sehari, 168 jam seminggu itulah waktu yang diberikan Allah SWT kepada kita yang tidak pernah berubah, meskipun rutinitas berubah.

Godaan waktu luang akhirnya membuat kita rentan terjangkit virus gabut alias gaji buta. Walaupun tugas menumpuk, rasa jenuh karena sudah berbulan-bulan di rumah membuat kita merasa ingin rebahan, scrolling media sosial, maraton film ataupun drakor. Ini bukan lagi suatu hal yang aneh. Namun apakah seorang Muslim wajar merasa gabut dan memilih untuk rebahan saja?

Islam telah mengatur bagaimana cara menghabiskan waktu yang diberikan oleh Allah SWT, yaitu dengan membagi prioritas kegiatan menjadi wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram.

Pertama, wajib merupakan aktivitas yang ketika dilakukan mendapat pahala dan ketika ditinggalkan mendapat dosa. Sebagai seorang Muslim, aktivitas wajib harus menjadi prioritas utama. Contohnya shalat 5 waktu, puasa Ramadhan, belajar Islam, taat kepada orang tua, berdakwah dan lainnya.

Kedua, sunnah yaitu aktivitas yang mendapat pahala ketika dikerjakan dan tidak mendapat apa-apa ketika ditinggalkan. Walaupun ketika ditinggalkan tidak mendapat dosa, namun merugi manusia ketika tidak melaksanakan aktivitas sunnah ini. Contohnya shalat rawatib, puasa senin-kamis, shalat dhuha dan shalat tahajud.

Ketiga, mubah yaitu aktivitas yang bebas nilai atau tidak ada balasannya. Tetapi, kita harus hati-hati karena ada aktivitas mubah yang bisa menjatuhkan kita kepada dosa. Seperti, menonton film-film romansa yang membuat kita ingin pacaran atau bermain game sampai melalaikan aktivitas wajib.

Keempat, makruh yaitu aktivitas yang sebaiknya kita tinggalkan. Ketika dikerjakan aktivitas ini tidak mendapatkan apa-apa, sedangkan ketika ditinggalkan mendapatkan pahala.

Kelima, haram yaitu aktivitas yang mendatangkan dosa ketika dikerjakan dan mendapat pahala ketika ditinggalkan. Contohnya seperti pacaran, bergelut dalam riba, bergosip, mengambil hukum selain dari Allah SWT dan aktivitas maksiat lainnya.

Sebagai seorang Muslim, kelima hukum di atas harus menjadi patokan dalam beraktivitas. Aktivitas wajib haruslah menjadi hal yang paling utama ditambah dengan sunnah. Kemudian, berhati-hati dengan yang mubah agar tidak membawa kepada dosa. Serta, meninggalkan yang makruh dan haram.

Kita juga harus memahami untuk apa kita hidup di dunia. Apakah untuk mengejar gelar? Untuk mendapatkan pundi-pundi materi? Ataukah untuk menjadi terkenal?

Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah).

Seorang Muslim harus selalu mengingat bahwa kehidupannya di dunia merupakan ladang untuk menyiapkan bekal di akhirat kelak. Karena target kita adalah meraih surga-Nya, maka tidak ada waktu untuk kita bermalas-malasan alias gabut. Hidup kita akan selalu dinamis, produktif dan diisi dengan berlomba-lomba dalam kebaikan.

Ritme hidup ala kapitalis seperti saat ini memang menjadikan kita mudah jenuh dan stres. Karena pandangan hidup kapitalis selalu berpusat pada dunia semata dengan materi sebagai patokannya. Manusia tidak akan puas sebelum mendapatkan nilai yang bagus, materi segudang, ketenaran, dan hal-hal lain berbau duniawi. Akhirnya korban sistem kehidupan kapitalis akan merasa lelah dan melarikan diri salah satunya dengan rebahan. Hal ini karena mengejar materi duniawi saja memang bukanlah fitrah seorang manusia.

Supaya tidak terarus dengan ritme hidup yang rusak ini, maka kita perlu membentengi diri dengan ilmu Islam dan kebutuhan akan sistem kehidupan Islam. Untuk membangun kehidupan Islam butuh perjuangan yang panjang dengan persiapan yang tidak sedikit. Maka, sebagai seorang Muslim tidak sepatutnya waktu yang telah diberikan oleh Allah SWT terbuang sia-sia. Karena kita harus terus mengkaji Islam kaffah dan mendakwahkannya. Wallahu’alam bissawab. []

 

News Feed