oleh

Hanya dengan Islam Harmonisasi Pria dan Wanita Terjadi

Oleh: Suci Wulandari | Alumni Politeknik Negeri Jakarta

Maslahat Umat | Wanita dan pria merupakan salah dua makhluk yang Allah SWT ciptakan untuk mewarnai panggung kehidupan di dunia. Karena menjadi bagian dari makhluk Allah SWT, interaksi yang terjadi antara wanita dan pria juga menjadi bagian dari hal-hal yang diatur oleh-Nya. Di antaranya:

Pertama, wanita dan pria dalam Islam tidak diperbolehkan untuk bercampur baur (ikhtilat), kecuali dengan alasan syar’i yang memperbolehkan mereka untuk saling berinteraksi.

Kedua, wanita dan pria dalam Islam tidak diperbolehkan berdua-duaan (khalwat). Hal ini pun ditegaskan dalam hadits Rasulullah SAW, Beliau bersabda: “Janganlah seorang laki-laki itu berkhalwat (menyendiri) dengan seorang wanita kecuali ada mahram yang menyertai wanita tersebut.” (HR. Bukhari & Muslim).

Ketiga, wanita dan pria adalah dua makhluk yang diminta oleh Allah untuk sama-sama menundukan pandangannya. Allah SWT berfirman di dalam AlQuran Surah an-Nur ayat 30-31 yang artinya: Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat [30]. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya [31]”.

Keempat, Allah SWT memerintahkan pria dan wanita untuk menutup beberapa bagian tubuhnya yang sudah ditetapkan sebagai aurat. Aurat pria pusar hingga lutut. Seperti yang dijelaskan dalam hadits berikut:“Apa yang ada di bawah pusar sampai lutut itu adalah aurat.” (HR. Ahmad dan Ad-Daruquthni)

Sedangkan wanita yakni seluruh tubuh kecuali telapak tangah dan wajah.“Wanita adalah aurat. Jika dia keluar, maka setan akan mengawasinya.” (At-Tirmidzi)

Bahkan luar biasanya lagi dalam Islam, khusus untuk wanita Allah SWT telah menurunkan aturan khusus bagaimana pakaian yang seharusnya dikenakan. Yakni berupa: Pertama, khimar (Kerudung). “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah menutup kain Khimar ke dadanya.(TQS. An Nur : 31)

Kedua, jilbab. “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, isteri-isteri orang mukmin: “hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang. (TQS. Al Ahzab : 59)

 

Ketiga, tanpa tabaruj. Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.(TQS. Al Ahzab: 33)

Lebih lengkapnya lagi, dalam Islam seorang wanita tidak diperkenankan untuk melakukan safar tanpa adanya mahram. Hal ini pun bukan untuk mengekang seorang wanita, melainkan bentuk perlindungan Islam terhadap wanita.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiallahu’anhu, Nabi SAW bersabda: “Seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak boleh melakukan safar selama 3 hari atau lebih, kecuali bersama ayahnya, atau anaknya, atau suaminya, atau saudara kandungnya, atau mahramnya.” (HR. Muslim no. 1340)

Mahram yang dimaksud dalam hadits ini adalah laki-laki yang haram untuk dinikahi selamanya karena sebab keturunan, persusuan dan pernikahan dalam syariat. Jika kita lakukan penguaraian lebih jauh, maka yang termasuk mahram adalah sebagai berikut:

Pertama, mahram karena keturunan. Anak laki-laki, saudara laki-laki, bapak, paman (dari bapak/ibu), kakek, anak saudara laki-laki/perempuan (keponakan), baik dari keluarga seayah seibu, keluarga seayah, keluarga seibu.

Kedua, mahram karena pernikahan. Suami putrinya (menantu), suami cucu dari putrinya (terus keturunannya ke bawah), putra suaminya (anak tiri), Anak-anak dari putra/putri suaminya, ayah atau kakek suami (terus ke atas), baik dari pihak ayah suami maupun ibu suami.

Ketiga, mahram karena persusuan. Sabda Nabi SAW:Apa yang haram karena nasab maka itupun haram karena penyusuan.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Dengan mengetahui bahwa interaksi antara pria dan wanita dibatasi dalam Islam, apakah lantas kita tidak bisa berinteraksi sepenuhnya dengan lawan jenis? Tentu tidak. Dalam Islam pun diperbolehkan adanya interaksi yang dilakukan antara pria dan wanita, jika masih dalam koridor yang sesuai dengan syariat Islam. Dalam arti adanya alasan syar’i yang memperbolehkan keduanya untuk melakukan interksi.

Adapun beberapa aktivitas yang memperbolehkan adanya interaksi antara wanita dan pria secara langsung di antaranya dalam kesehatan (dokter memeriksa pasien), pendidikan (dosen mengajar mahasiswa mahasiswi), muamalah (pedagang dan pembeli) dan darurat (kecelakaan di jalan).

Harmonisasi Pria dan Wanita

Apakah semua batasan dan aturan yang sudah disebutkan di atas terdengar asing? Terdengar berlebihan?  Atau bahkan terdengar sangat jauh dari kebebasan? Jika jawabannya iya, semua itu adalah reaksi yang sangat wajar. Karena dengan sistem yang berlaku saat ini — sistem yang dipaksakan untuk mengatur seluruh kehidupan manusia— membuat kita seorang Muslim jauh dari aturan Islam sesungguhnya terkait dengan batasan hidup antara laki-laki dan perempuan.

Semua hal dianggap sebagai bagian dari kebebasan dan hak individu yang wajib dijamin oleh negara. Tidak boleh ada siapa pun yang berhak untuk melanggar hak individu lainnya, sekalipun aturan agama yang melanggarnya. Hak Asasi Manusia menjadi nomor wahid yang perlu dibela dan diperjuangkan. Tapi, suara kebebasan itu ternyata tidak berpihak terhadap diri para pengembannya.

Pada faktanya, jika terjadi akibat tertentu karena dilakukannya suatu aktivitas yang mengatasnamakan kebebasan, mereka bungkam dan memilih untuk menyalahkan hal di luar kebebasan tersebut. Maraknya pasangan muda mudi yang melakukan hubungan badan di luar pernikahan, di zaman ini dianggap sebagai suatu hal yang lumrah, bahkan difasilitasi dan didukung dengan dalih bagian dari hak, dilakukan atas dasar suka sama suka dan tidak merugikan orang lain.

Tapi anehnya, saat pihak perempuan ternyata hamil pasca hubungan tersebut, para pengemban kebebasan tadi bungkam dan tanggung jawab diserahkan kepada para pelaku masing-masing. Disaat ada pihak lain yang berusaha untuk menghapuskan perbuatan zina tersebut, para pengemban kebebasan justru semakin bersuara dalam menyuarakan kebebasannya. Hal ini jelas kontradiktif sekali dan memperlihatkan kepada kita bahwa ternyata kebebasan bukan menjadi solusi dari permasalahan yang muncul sebagai akibat adanya hubungan wanita dan pria yang tiada batas.

Pria dan wanita diciptakan dengan fitranya masing-masing dengan naluri. Dengan naluri tersebut tidak seharusnya menjadikan mereka bisa bebas melakukan apapun berdasarkan nalurianya semata. Mereka tercipta untuk saling melengkapi bukan untuk saling mencaci dan menyamai. Kebebasan bertingkah laku yang terjadi di zaman ini memang cukup membingungkan, tidak ada standar jelas yang bisa dijadikan acuan dalam menilai suatu tindakan apakah termasuk kategori baik atau buruk. Pendapat baik dan buruk diserahkan kepada nalar dan perasaan masing-masing individu. Untuk dia baik, belum tentu untuk kita baik, begitu pun kondisi sebaliknya.

Maka, pria dan wanita akhir zaman ini butuh Islam untuk menyeimbangkan hal tersebut. Syariat Islam hadir menjelaskan peran wanita dan laki-laki, bahkan sampai mengatur batasan yang berada di antara keduanya. Hanya Islam, yang berperan sebagai agama sekaligus sebagai cara pandang hidup kita sebagai seorang Muslim.

Selain itu dibutuhkan juga suatu institusi formal yang bisa mengemban aturan-aturan Islam ini agar bisa dipahamkan kepada umat dan dilaksanakan oleh umat. Tidak lain dan bukan, Islam butuh negara untuk bisa diterapkan secara menyeluruh, yakni dalam bingkai khilafah. Karena hanya itulah institusi yang akan menerapkan Islam secara keseluruhan. Kita sebagai Muslim, kalau bukan aturan Islam yang kita jadikan acuan, lantas aturan siapa lagi? Jangan sampai kita menjadi kontributor yang membuat Islam justru semakin jauh dari para pemeluknya. []

 

News Feed