oleh

Ghazwul Fikr: Enggak Sakit, Enggak Berdarah, Tapi Mematikan!

Oleh: Albayyinah Putri, S.T |

Maslahat Umat | Perang itu biasanya identik dengan saling membunuh, pertumpahan darah, kehancuran secara fisik atau hal lainya yang bisa kita lihat. Namun, di era kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan saat ini ada perang yang sangat masif dan terstruktur, yang disebut dengan ghazwul fikr atau perang pemikiran. Ghazwul fikr, enggak sakit, enggak berdarah tapi mematikan! Di Indonesia, ghazwul fikr ini dimulai saat penjajahan kolonial Belanda berlangsung dan tanpa kita sadari pastinya masih berlangsung sampai sekarang.

Tapi, tahu enggak sih? Ghazwul fikr pertama kali di dunia itu pada saat terciptanya Adam a.s dan Hawa. Ketika ­Adam a.s dan Hawa tinggal di Surga, mereka dipersilakan oleh Allah untuk menikmati segala macam sarana dan fasilitas yang ada di Surga kecuali buah kuldi, Allah melarang mereka untuk mendekati dan memakannya. Namun, disaat yang sama Iblis yang sudah meminta penangguhannya kepada Allah agar bisa selalu mengganggu dan menjerumuskan umat manusia, berhasil mengganggu Adam a.s dan Hawa.

Di sinilah teknik ghazwul fikr pertama digunakan. Bagamana Iblis menghasut dan membisikan kepada mereka bahwa buah kuldi adalah buah kekekalan dengan menggambarkan dan membungkus kalimat dengan indah agar Adam a.s dan Hawa terhasut. Pada akhirnya mereka pun terhasut dan Allah SWT memberikan hukuman pada mereka dengan dikeluarkan dari Surga serta turun ke bumi secara terpisah. Begitulah gambaran ghazwul fikr yang nyata.

Kita tidak bisa menghilangkan ghazwul fikr pada saat ini, karena ini terjadi untuk menunjukan posisi umat manusia sebagai hamba Allah, akan terpengaruh ataukah tidak. Sadar atau tidak, perang pemikiran sungguh sangat berbahaya bahkan lebih berbahaya daripada perang fisik. Sekali pun perang fisik akan menghilangkan nyawa dan menghancurkan sebuah kota atau negara, namun perang pemikiran atau ghazwul fikr ini mampu menghancurkan sebuah peradaban. Sehingga kita bisa merasakan kehancurannya lebih besar dibandingkan kehancuran perang fisik.

Peradaban merupakan identitas manusia yang terluas mencakup segala aspek kehidupan, baik itu fisik maupun non fisik. Fisik bisa berupa infrastruktur, sedangkan non fisik bisa berupa ilmu pengetahuan ataupun nilai-nilai kehidupan. Bisa dibayangkan, bagaimana sebuah peradaban hancur akibat perang ini? Yup! Semua kehidupan kita akan hancur tanpa adanya pertumpahan darah.

Lalu, bagaimana kita bisa tahu bahwa ini adalah ghazwul fikr? Bisa kita lihat bagaimana kehidupan kita saat ini cenderung condong kepada pemahaman Barat, seperti seseorang yang tidak memiliki identitasnya sendiri. Kita orang Indonesia, tapi kebudayaan atau kehidupannya tercampur dengan budaya Barat. Dan yang terpenting adalah identitas kita sebagai seorang Muslim, kita memang Muslim tapi bisa kita lihat bagaimana kehidupan umat Muslim saat ini? Tidak sedikit umat Muslim yang kebarat-baratan. Menganggap lebih baik kebarat-baratan daripada kearab-araban yang bisa dianggap sebagai ektrimis. Rela melepaskan identitas murninya sebagai umat Muslim hanya karena ‘takut’ dicap sebagai ekstrimis atau radikalis. Kapitalisme, sosialisme, liberalisme bahkan sekularisme begitu kental pada sistem tatanan kehidupan saat ini.

Perkembangan teknologi saat ini memiliki peran penting dalam penyebaran budaya asing. Lewat sosial media misalnya, kita bisa mengakses berbagai macam berita sehingga kita bisa tahu kebudayaan-kebudayaan bangsa lain atau negara-negara lain. Bebas mengikuti budaya negara lain karena kebebasan individu memang dilindungi pada sistem saat ini.

Bahkan yang lebih mengejutkan lagi, dikutip dari kompasiana.com, wakil presiden KH. Ma’ruf Amin menganjurkan agar budaya korea atau K-Pop untuk dijadikan sebuah inspirasi. Padahal kita semua tahu background beliau adalah seorang ulama, pengemban dakwah Islam seharusnya lebih mengedepankan prinsip-prinsip Islam bukan malah mengedepankan budaya asing.

Selain itu, situasi seperti ini sebenarnya juga dikhawatirkan oleh beberapa tokoh di Indonesia, salah satunya Kepala Staf Kepresidenan, Jendral TNI Moeldoko. Dilansir dari merdeka.com, 2018, ia mengatakan anak-anak muda perlu dikenalkan kepada budaya-budaya lokal, sehingga tidak tercerabut identitasnya, identitas budayanya, identitas sosialnya karena hal ini sangat penting.

Beginilah keadaan generasi muda saat ini, sangat memprihatinkan dan mengkhawatirkan akibat terpengaruhnya budaya asing, bukan sekadar kebudayaan saja tapi pemahaman dan pemikirannya sangat kebarat-baratan sehingga segala aspek kehidupannya sangat jauh dari agamanya terutama generasi Muslim. Memang benar ghazwul fikr adalah strategi propaganda pihak Barat untuk menjauhkan umat Muslim dari Islam. Sunatullah memang, orang-orang kafir tidak akan pernah ridha sampai umat Muslim benar-benar mengitu mereka, seperti Firman Allah SWT, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (TQS Al-Baqarah: 120).

“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya” (QS Al-Baqarah: 217).

Allah SWT jelas mengancam kita jika berpaling dari ajaran-Nya, mengikuti kemauan orang-orang kafir. Maka, Allah tidak lagi menjadi pelindung kita  jika sampai pada murtad. Maka, neraka adalah seburukburuknya tempat bagi kita. Naudzubillah.

Sebenarnya, kebebasan beropini, berekspresi, hak asasi manusia yang digaungkan pada sistem saat ini yang menjadi landasan bagaimana ghazwul fikr ini terus terjadi dan mungkin tidak banyak orang yang merasakan hal ini. Sistem demokrasi liberal yang kita anut saat ini lah yang menjadikan semua aktivitas kehidupan berlandaskan sebuah kebebasan dan kebebasan ini pun dilindungi oleh negara. Lagi-lagi kebebasan setiap individu adalah hal yang paling diutamakan, selama tidak saling mengganggu atau tidak saling merugikan kebebasan yang lain sekali pun hal itu bertolak belakang dengan nilai moral ataupun nilai agama. Bahkan alasan agama tidak boleh menjadi penghalang setiap individu dalam melakukan aktivitas mereka.

Demokrasi liberal ini lahir dari ideologi kapitalisme yang berasas sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan). Sangat sesuai bukan dengan sistem saat ini? Kebebasan individu tidak boleh diganggu oleh aturan-aturan agama. Maka, generasi Muslim saat ini sangat jauh dar nilai-nilai Islam. Padahal kita tahu bahwa setiap manusia itu diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah. Semua aktivitas kita di dunia itu terhitung ibadah, karena ini adalah ibadah maka semua yang kita lakukan pasti ada aturannya.

Kebebasan tanpa batas bukanlah cerminan dari kepribadian Islam. Bebas dalam Islam bukan bebas yang mengesampingkan syari’at, tapi kita bisa bebas menggunakan apa yang tersedia di dunia baik itu sarana, fasilitas atau ilmu pengetahuan hanya untuk beribadah kepada Allah SWT. Melakukan aktivitas kita di setiap harinya hanya karena Allah SWT.

Berbeda dengan sistem kapitalisme saat ini, Islam memiliki aturan-aturan dan metode dalam menjaga umatnya pada situasi ghazwul fikr. Islam akan menguatkan akidah generasi Muslim sejak dini, maka setiap Muslim akan berhati-hati dalam menerima pemahaman asing. Islam juga tidak akan membiarkan pemahaman asing dengan mudah masuk ke dalam kehidupan kaum Muslimin dengan sebuah kontrol dari negara. Setiap media, baik itu elektronik maupun cetak akan terjaga dan penayangan-penayangan budaya asing. Generasi muda tidak akan mudah mengakses hal-hal yang akan merusak akidahnya atau pun pemahamannya tentang Islam.

Negara dalam Islam sangat berperan penting dalam menjaga setiap indvidu agar selalu bertakwa kepada Allah, karena negara menerapkan aturan-aturan yang bersumber dari Allah langsung, yaitu Al-Qur’an. Metode yang digunakan pun warisan Rasulullah SAW yang pastinya shahih, bukan metode yang berasal dari pihak Barat.

Masyarakat pada sistem Islam juga bekerja sama dalam ber-amar ma’ruf nahi munkar. Tidak seperti sekarang, mengotak-ngotakkan Islam dari radikalis, fundamentalis, tradisionalis, ekstrimis, moderat dan lain sebagainya. Kontrol masyarakat juga menjadi salah satu pilar yang penting dalam menjaga tatanan kehidupan agar tetap sesuai dengan syari’at Allah SWT. Hukum yang adil, hidup sejahtera dan pemimpin yang mengayomi umatnya adalah impian setiap umat manusia.

Semua itu akan kita temukan dalam Islam, karena Islam memiliki seperangkat aturan yang komplet untuk mengatur segala tatanan kehidupan dengan adil tanpa memandang suku, ras, kedudukan, jabatan kaya, miskin, laki-laki ataupun perempuan. Semuanya sesuai dengan fitrahnya manusia dan siapapun pasti akan merasa adil tanpa terkecuali. Allah SWT berfirman, “…. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu. Tetapi barangsiapa terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah : 3)

Maka, sudah seharusnya kita yakin 100% akan kebenaran Islam, yang mampu mengatur kita dalam segala aspek dan harusnya kita memang menerapkan Islam itu di kehidupan kita. Tidak ada aspek mana pun yang bisa dipisahkan oleh Islam, karena identitas kita adalah Muslim, umat yang beriman kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Kita tahu bahwa generasi muda saat ini sangat paham dan mengerti pada penggunaan sosial media. Seharusnya pengetahuan ini kita berdayakan untuk menyebaran konten-konten bermanfaat, agar memotivasi generasi muda lainnya dan mengedukasi umat terhadap hal-hal yang baik dan positif. Meng-upgrade diri dalam pemahaman Islam, supaya bisa berdakwah di ranah sosial media. Menggunakan sosial media untuk menambah tsaqafah (pemahaman) Islam, agar semakin paham dalam ber-Islam secara kaffah dan tidak menjadikan Islam seperti agama ‘prasmanan’ hanya mengambil sebagian aturannya dan meninggalkan sebagian lainnya.

Jelas dalam Al-Qur’an bahwa Allah SWT memerintahkan kita untuk ber-Islam secara kaffah, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS  Al Baqarah: 208)

Sepatutnya kita menjadi generasi muda Muslim yang mengedepankan prinsip-prinsip Islam, membangun border sendiri sesuai dengan syari’at Islam agar kita terlindung dan terjadi pada situasi ghazwul fikr saat ini. Kita juga bersama-sama memperjuangkan dan mendakwahkan Islam agar sampai kepada umat, bahwa Islam yang kaffah-lah yang sesungguhnya Allah SWT perintahkan, penerapan pada setiap aspek kehidupan tanpa terkecuali demi meraih keberkahan dari Allah dan merasakan Islam rahmatan lil’alamin. Yuk para pemuda Muslim, rapatkan barisan dalam memperjuangkan Islam kaffah bersama tanpa tapi tanpa nanti. []

 

 

News Feed