oleh

Edukasi Masyarakat, Jangan Ada Lagi Penolakan Jenazah Covid-19

JAKARTA | Maslahat Umat – Gara-gara takut tertular virus corona, ada beberapa oknum masyarakat yang melakukan penolakan terhadap jenazah yang akan dikebumikan. Bukan sekali dua kali, penolakan warga terhadap jenazah yang sedang dihantarkan ke makam. Tapi sering terjadi. Itu dikarenakan tidak adanya edukasi oleh pihak pemerintah, sehingga tidak terjadi kesalahpahaman.  

Di Semarang misalnya, seorang perawat yang meninggal di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Kariadi Semarang, jenazahnya sempat ditolak saat akan dimakamkan. Tentu ini menjadi keprihatinan yang mendalam.

Aksi solidaritas keprihatinan pun dilakukan sesama perawat dengan mengenakan pita hitam di lengan kanan. Selain penggunaan pita hitam, perawat di Jawa Tengah juga diinstruksikan agar tetap memberikan pelayanan kesehatan terbaik untuk masyarakat.

Atas penolakan itu, Majelis Ulama Indonesia ( MUI) meminta tidak ada lagi masyarakat yang menolak pemakaman jenazah positif corona virus (Covid-19). MUI memandang, aksi tersebut tidak sepatutnya dilakukan karena tak ada alasan yang mendasar.

“Kalau kita melihat hadist, diterangkan bahwa jika ada di antara kalian yang meninggal, jangan kalian menahan-nahan dan segerakanlah dia itu dikuburkan di tempat pemakamannya,” kata Wakil Sekretaris Jenderal MUI Bidang Fatwa, Sholahuddin Al-Aiyub melalui keterangan tertulisnya, Rabu (8/4/2020).

Aiyub mengatakan, dalam Islam, penguburan jenazah hukumnya fardlu kifayah. Artinya, umat Islam yang ada di daerah tersebut adalah yang paling berkewajiban melaksanakan hak-hak jenazah. Ia juga mengatakan bahwa dalam Islam tidak dibolehkan menunda-nunda penguburan jenazah.

Selain alasan keagamaan, lanjut Aiyub, dari sisi protokol medis pun penanganan jenazah Covid-19 sudah memperhatikan keselamatan tempat pemakaman. Menurut dia, sudah tepat jenazah Covid-19 dikafani dan dilapisi kantong jenazah berbahan plastik yang tidak tembus. Jenazah tersebut kemudian dimasukkan ke dalam peti yang juga telah sesuai protokol medis.

“Artinya pada saat dikebumikan, tetesan itu bisa diantisipasi tidak terjadi. Protokolnya bukan hanya menjaga orang yang menguburkan, tetapi juga keselamatan orang yang ada di daerah sekitar,” ujar Aiyub.

Aiyub menilai, adanya penolakan penguburan jenazah Covid-19 disebabkan karena salah paham serta ketidaktahuan masyarakat. Ia pun meminta pemerintah untuk memberikan informasi lebih detail terkat aspek kesehatan dalam penguburan jenazah Covid-19.

“MUI mengimbau kepada aparat untuk melakukan langkah persuasi terlebih dahulu, saya menebak itu belum pahamnya masyarakat. Saya mohon betul kepada teman-teman wartawan, terus disampaikan, sehingga bisa sampai kepada masyarakat kita dan masyarakat kita bisa memahami,” kata dia. (des)

News Feed