oleh

Doa Semua Agama, Bolehkah?

Oleh:  Ummu Nada | Dokter Umum

Maslahat Umat | Belum lama ini Menteri Agama Republik Indonesia, Yaqut Cholil Qoumas, menyampaikan agar kegiatan berskala besar dalam Kementerian Agama dimulai dengan doa dari semua agama, tidak hanya doa dari agama Islam saja. Alasannya karena Kementerian Agama di Indonesia menaungi semua agama yang diakui di Indonesia. Selain itu, menurutnya doa lintas agama akan mengingatkan semua peserta untuk tidak melakukan korupsi.

Pernyataan Menag mengenai doa seluruh agama tersebut menuai kontra. Ketua MUI, KH. Cholil Nafis menyatakan selama ini doa yang dilakukan sudah benar dengan umat terbanyak yang memimpin doa, sedangkan penganut agama lain berdoa sesuai keyakinan masing-masing. Ia menilai pelaksanaan ini lebih efisien dan penganut agama Islam diharamkan untuk mengamini doa yang dibacakan oleh non-Muslim.  Namun, doa semua agama, bolehkah?

Sebenarnya, berdoa lintas agama adalah satu bentuk liberalisasi akidah. Seorang Muslim seharusnya memiliki akidah Islamiyah dengan hanya beriman kepada Allah SWT saja sehingga segala aktivitasnya dilakukan sesuai syariat Islam dalam rangka ibadah kepada Allah. Berdoa sebagai salah satu ibadah tentunya mesti ditujukan kepada Allah karena hanya Allah yang patut disembah, seperti dalam firman-Nya, ”Hai manusiasembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS alBaqarah: 21-22).

Tidak dibenarkan bagi seorang Muslim untuk mengikuti ibadah agama lain, bahkan mempraktikkan sinkretisme agama secara terang-terangan dengan doa lintas agama. Seorang Muslim wajib meyakini Islam sebagai satu-satunya agama yang benar. MUI telah menilai pluralisme sebagai paham yang bertentangan dengan Islam karena pluralisme mengajarkan semua agama adalah sama sehingga tidak boleh mengklaim agama lain salah.

Walaupun Islam melarang penganutnya untuk mengikuti ibadah agama lain, Islam bersifat toleran dengan tidak melarang penganut agama lain untuk menjalankan ibadahnya. Selain itu, seorang Muslim tidak dibenarkan untuk memaksakan keyakinannya kepada pemeluk agama lain. Seperti pada ayat berikut: “Katakanlah (Muhammad), “Wahai orang-orang kafir! aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku. (QS al-Kafirun: 1-6).[]

 

News Feed