oleh

Doa Pagi Seorang Ibu

1Sepertiga malam. Lantunan doanya ketika duduk bersimpuh di atas sajadah, membuat hati pendengarnya bagai diterpa gerimis kala sore menjelang: Tenang, sejuk, dan damai. Ia tak pernah lelah mendoakan buah hatinya ketika susah maupun senang. Dalam pikirnya, ia berharap yang terbaik buat sang anak.

Sebelum ayam berkokok ia telah bangun dari tidurnya. Merapihkan kamar dan membangunkan seisi rumah untuk memulai aktivitas di pagi hari. Menyusuri jalan, membeli sayuran guna menyiapkan sarapan untuk orang -orang yang dia sayangi.

Asap mengepul berasal dari sebuah tungku di sudut dapur. Kepulannya membuat suasana ruangan menjadi pengap seketika. Kayu-kayu yang membara mendidihkan air dalam ketel, menimbulkan suara mendesis yang menandai bahwa air sudah masak.

Menyantap hidangan yang masih hangat buatannya adalah kebahagiaan sebelum mengawali hari. Walaupun hanya tahu tempe dibalik tudung saji tapi itu telah cukup untuk mengisi energi yang menjadi penyemangat di dalam hati.

Sebelum sang buah hati berangkat, dia selalu mencium keningnya dan tak lupa si anakpun membalas dengan ciuman di tangannya. Sayup-sayup terdengar lantunan doa keluar dari mulutnya yang dikhususkan untuk merestui kepergian sang anak mencari rejeki. “Hati-hati di jalan nak. Setiap langkahmu pasti terselip doa-doa ibu,” tuturnya.

Pantang mengeluh dan selalu menebar senyuman adalah motivasi di dalam dirinya. Sedangkan bertubi-tubi masalah datang menimpa rumah tangganya tetapi wajahnya selalu terlihat bahagia walau hatinya sedang diterpa bencana. Sekalipun, dia tak pernah bermuram durja.

Dialah sang perantara pemilik kehidupan karena seakan-akan mempunyai koneksi langsung menuju Tuhan. Setiap kalimat-kalimat suci yang terlontar dari mulut dan didasari oleh keikhlasan hatinya, lambat laun akan diijabah oleh-Nya.

Dia adalah malaikat yang sesungguhnya terlihat. Seorang perempuan yang bertaruh nyawa ketika melahirkan sang anak yang ia nanti-nantikan selama sembilan bulan. Pengorbanan dan perjuangannya untuk sang anak tak akan pernah bisa terbayar oleh apapun. Bahkan bumi beserta isinya.

Fuad Arkaan
Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed