oleh

Dihadapan Rasulullah, Nadhr bin Harits Minta Diazab Hujan Batu

Oleh: Ustadz Shofin Sugito

Maslahat Umat | Pada awal dakwah Nabi di Mekkah, ada seorang Quraisy dari Bani Abu Ad-Dar, namanya An-Nadhr Ibn Harits. Ia terkenal akan kecerdasan akalnya, licik, berpengetahuan tinggi dan banyak pengalaman.

Nadhr sering bepergian ke berbagai wilayah Romawi, Persia dan sekitarnya untuk berniaga. Dalam perjalanannya, ia bertemu banyak orang cerdik-pandai. Bahkan ia bertemu banyak tradisi dan budaya dari berbagai suku dan bangsa. Oleh karenanya, ia sangat berbangga diri dan merasa paling unggul di antara Suku-Suku di Mekkah.

Saat pulang dari berniaga, An-Nadhr dilapori akan adanya orang Mekkah yang bernama Muhammad yang mengaku sebagai Nabi. Ia mengajarkan tauhid, dan persamaan antar manusia. Para pembesar suku Quraisy memintanya untuk menghentikan pengaruh Muhammad, agar penduduk Mekkah tetap menyembah berhala dan mengikuti ajaran para leluhurnya. Lantas, ia pun setuju untuk memenuhi permintaan tersebut, karena Muhammad juga berpotensi mengancam eksistensi ‘keunggulannya’ di tengah masyarakat Mekkah.

Lalu, An-Nadhr melakukan selalu hadirr dimanapun Muhammad Saw berdakwah, lalu mengatakan di hadapan orang-orang bahwa yang disampaikan Muhammmad tak lain hanyalah dongeng-dongeng fiksi dari orang-orang terdahulu.

Untuk menanding Muhammad Saw, di hadapan orang banyak, Nadhr pun menceritakan dongeng-dongeng yang diadopsinya dari tradisi Romawi dan Persia. Tetapi, An-Nadhr gagal.

Selanjutnyaa, Nahdr terus berpikir bagaimana menggagalkan dakwah Rasulullah Saw. Lalu ia memanggil para penyanyi dan penari untuk “pentas” disaat Muhammad Saw sedang berdakwah di tengah penduduk Mekkah. Harapannya, penduduk Mekkah lebih tertarik nyanyian merdu dan jogetan seksi serta iming-iming hadiahnya. Kemudian orang-orang meninggalkan Muhammad Saw. Namun, An-Nadhr kembali gagal.

Setelah usahanya gagal, An-Nadhr pun pergi ke berbagai daerah untuk mencari inspirasi jahat. Akhirnya, ia pun bertemu Ahli Kitab di Yatsrib, dan dibekali tiga pertanyaan yang dirasa bisa menjatuhkan harkat martabat Muhammad Saw di hadapan masyarakat Mekkah. Lalu, ia pun pulang ke Makkah, dan mengumpulkan banyak orang. Ia pun mengundang Nabi Saw untuk hadir.

Dalam acaranya itu, ia bertanya kepada Rasulullah Saw: “Wahai Muhammad, jika kamu benar-benar Nabi Utusan Tuhan, tentu kamu bisa menjawab tiga pertanyaanku ini. Kamu bersedia?”

“Katakanlah, apa itu?!”, jawab Muhammad Saw.

“Pertama, tahukah kamu tentang sekelompok pemuda yg mengasingkan dirinya demi menjaga Iman-Akidahnya? Kedua, tahukah kamu tentang seorang Raja yang kekuasaannya meliputi Barat hingga Timur? Ketiga, bisakah menjelaskan tentang hakikat Ruh!?”

Lalu Rasulullah Saw menjawab: “Pemuda itu dikenal dengan Ashabul Kahfi”. Lalu secara detail dibacakanlah Surah Al-Kahfi ayat 9 hingga 26.

Nabi Saw lanjut menjawab, “Raja tersebut bernama Dzul Qarnain”. Laludibacakanlah Surah Al-Kahfi ayat 83 hingga 101.

“Adapun soal hakikat Ruh, itu urusan Allah ta’ala. Sementara manusia tidaklah diberi pengetahuan, melainkan hanya sedikit”, jawab Muhammad untuk pertanyaan ketiga. Kemudian, tanpa mendetailkan, dibacakanlah Surah Al-Isra’ ayat 85. Akhirnya, strategi dan upaya Nadhr gagal total. Bahkan, malah makin banyak orang bersimpati pada Dakwah Muhammmad Saw.

Saking malu dan marahnya, kedengkian An-Nadhr semakin bertambah. terhadap Muhammad Saw. Tal kehabisan akal, An-Nadhr mengumpulkan orang lebih banyak dan lebih besar lagi. Diundang pula Muhammad di acaranya ini. Lantas di hadapan khalayak ramai, ia hendak menjatuhkan kredibilitas Rasulullah, dengan menantang dan minta diazab.

“Wahai Muhammmad, jika yang kamu dakwahkan itu benar, maka mintalah Tuhanmu untuk mengazabku, turunkanlah hujan batu.” Ini adalah strategi An-Nadhr; bila ia baik-baik saja dan hujan batu tidak juga turun, maka berarti Muhammad Saw dianggap berdusta, dan ia yang benar dan menang.

Allah ta’ala mengabadikan omongan An-Nadhr ini untuk dijadikan pelajaran oleh Umat Islam: “Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata, “Ya Allah, jika yang didakwahkan Muhammad (Al-Qur’an), ini adalah Haq (kebenaran), maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami  azab yang pedih.” (Q.S. Al-Anfaal; 32).

Demikianlah kisah An-Nadhr ibn Harits dengan segala upaya dan kelakuan menentang kebenaran. Lalu, Apakah Allah ta’ala langsung menurunkan azab kepadanya? Tidak. Allah membuatkan untuknya sebuah “skenario”, dimana ia akan dihinakan dan bertingkah memalukan terus-menerus. Hingga akhirnya, skenario Allah ta’ala dibuktikan dalam Perang Badar sebagai kuburan bagi musuh-musuh Rasulullah, termasuk di dalamnya terbunuhnya An-Nadhr. []

News Feed