oleh

Cut Keumalahayati, Laksamana Wanita Pertama di Dunia

Oleh : Dian Salindri | Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok

Maslahat Umat | Para penggiat tanaman pasti akrab dengan tanaman yang dikenal dengan nama ‘janda bolong’ yang sesungguhnya memiiki nama latin Monstera Adansonii variegate ini memang merupakan tanaman yang cukup unik. Daunnya yang memiliki lubang atau bolon yang cukup besar membuat tanaman ini banyak diminati oleh pecinta tanaman meskipun harganya cukup membuat mamak tepok jidat dan mengucap istighfar berkali-kali.

Meskipun tanaman ini sudah lama dilabeli dengan nama ‘janda bolong’, akhir-akhir ini banyak perempuan yang protes dengan nama yang disematkan pada tanaman tersebut, terutama para janda. Nama alias ini membuat wanita berstatus janda tersinggung dan merasa masyarakat masih berpikir negatif terhadap janda, padahal status janda bukanlah sebuah aib karena janda juga merupakan wanita yang bisa berkarya.

Dalam sejarah Nusantara ada pasukan yang angotanya mayoritas para Janda. Adalah Inong Balee, pasukan armada laut Aceh yang merupakan kumpulan dari kaum wanita yang kebanyakan merupakan janda yang suaminya gugur dalam peperangan di Teluk Haru. Laskar janda ini diberi nama Inong Balee, yang dalam bahasa Aceh Inong berate wanita sedangkan Balee berarti janda. Kelompok ini direkrut langsung oleh Laksamana Cut Keumalahayati yang juga merupakan janda dimana sang suami gugur saat bertempur melawan Portugis di Teluk Haru, perairan Malaka.
Cut Malahayati adalah putri dari Laksamana Mahmud Syah yang merupakan keturunan dari Sultan Ibrahim Mughayat Syah pendiri Kesultanan Aceh Darussalam. Sejak kecil, Malahayati menghabiskan waktunya untuk berlatih ketangkasan demi mampu menggapai cita-citanya yaitu menjadi panglima perang. Memang, Kesultanan Aceh pernah dipimpin oleh wanita yang tangguh yang salah satunya kepemimpinan Cut Nyak Dien, Cut Meutia dan seterusnya sehingga tidak heran jika Malahayati bercita-cita menjadi panglima perang seperti pendahulunya.

Cut Keumalahayati merupakan lulusan terbaik dari Akademi Maritim Ma’had BaitulMadqis Mukammil yang merupakan kerjasama antara Pemerintahan Kesultanan AcehDarussalam dengan Daulah Utsmaniyah yang melahirkan pahlawan hebat dan tangguh.Akademi ini juga merupakan bukti adanya jejak Khilafah di Nusantara. Sebagai lulusan terbaik, tak heran jika Malahayati ditunjuk menjadi Komandan Istana Darussalam sebagai Kepala Pengawal sekaligus Panglima Protokol Istana menggantikan almarhum suaminya, Zainal Abidin.

Sultan Alauddin juga memberikan Cut Malahayati kepercayaan untuk menduduki posisi tertinggi angkatan laut Kerajaan dengan pangkat Laksamana. Disebut-sebut, Cut Malahayati merupakan Laksamana Wanita pertama di Nusantara bahkan mungkin di dunia. Sebagai Laksamana, beliau tidak hanya memimpin pasukan yang mayoritasnya laki-laki, namun beliau juga memimpin pasukan Inong Balee yang beranggotakan lebih dari 2000 personel. Selain mengelola pasukan, Malahayati juga mengawasi seluruh pelabuhan dan Bandar dagang di Wilayah Aceh Darussalam.

Ketangguhannya sebagai Laksamana tercatat dalam sejarah, saat beliau memimpin pasukannya melawan tentara Belanda. Rombongan penjelajah Belanda yang dipimpin oleh Frederick dan Cornelis de Houtman bersandar ke dermaga milik Aceh Darussalam pada 21 Juni 1599. Semula hubungan dagang yang terjalin antara Belanda dan Kesultanan Aceh terjalin dengan baik, sampai orang-orang Belanda mulai melancarkan aksi provokasi yang menuai benih-benih pertikaian di Aceh. Sampai puncaknya Sultan Alauddin memerintahkan Laksamana Malahayati untuk menyerang dua bersaudara de Houtman dan segenap pasukannya agar pergi meninggalkan tanah rencong.

Pertarungan yang berlangsung sengit ini terjadi di tengah laut. Pasukan Belanda dibuat kewalahan oleh pasukan yang berjumlah ribuan termasuk pasukan Inong Bale, yang meskipun terdiri dari para wanita namun mereka berjuang dengan gigih dan berani mati. Puncaknya adalah duel satu lawan satu antara Malahayati dengan Cornelis de Houtmen. Lulusan terbaik Akademi Militer Ustmani memperlihatkan kepiawannya di medan perang, Laksamana Malahayati memenangkan duel tersebut setelah beliau menikam Cornelis dengan rencongnya. Akhirnya pasukan Belanda menyerah, Frederick yang merupakan adik Cornelis di tangkap dan dijebloskan ke dalam penjara bersama pasukan belanda yang tersisa.

Laksamana Malahayati ternyata tak hanya tangguh dan piawai dalam memimpin pasukannya, namun beliau juga pandai berdiplomasi. Ini dibuktikan pada saat pihak Belanda mengajukan perundingan damai untuk membebaskan Frederick de Houtman yang menjadi tawanan perang. Perdamaian pun terwujud, Frederick pun dibebaskan dengan syarat pihak Belanda membayar ganti rugi kepada Kesultanan Aceh.

Memang mungkin nama Cut Keumalahayati awalnya tidak sepopuler pahlawan asal Aceh lainnya yaitu Cut Nyak Dien maupun Cut Meutia, sampai akhirnya pada 6 November 2017, Presiden Joko Widodo menyematkan gelar pahlawan nasional kepada laksamana wanita pertama di Nusantara yaitu Cut Malahayati sehingga kini lebih dikenal masyarakat luas.

Kisah kepahlawanan Laksaman Malahayati ini membuktikan bahwa wanita dalam islam juga diberikan hak sama untuk mengambil peran dalam kepemimpinan militer. Dan seperti di awal tulisan ini, bahwa status janda tidak selalu memiliki stigma yang negatif. Wanita tidak dinilai dari statusnya sebagai janda, single atau wanita menikah. Karena dalam islam wanita dinilai dari bagaimana ia mampu menjaga kehormatannya dan berkarya untuk memperjuangkan kebenaran yakni Islam sebagai rahmat semesta alam.[]

News Feed