oleh

Berkata yang Baik atau Diam

“Sebenarnya kita membutuhkan latihan yang panjang untuk berbicara dengan orang lain, serta butuh pengalaman yang luas dalam menyampaikan dan memberi pengaruh.” – Dr. Aid Abdullah Al-Qarny

Demikian Dr. Aid Abdullah Al-Qarny menulis dalam bukunya “Beginilah Zaman Mengajari Kita”. Hal tersebut bisa dipahami, mengingat berbicara tanpa ilmu apalagi di depan publik hanya akan mejatuhkan wibawa diri atau dengan kata lain, mempertontonkan kebodohan. Maka, kita hanya memiliki dua pilihan, yaitu berkata yang baik atau diam.

Menjadi pribadi yang baik adalah pilihan, saat seseorang berusaha untuk menjadi pribadi yang baik, maka dibutuhkan pula akhlak yang mulia, karena akhlaklah yang akan mengantarkannya menjadi pribadi yang terpuji. Maka, pilihannya hanyalah berkata yang baik atau diam.

Cerminan dari akhlak yang baik tentunya adalah ucapan yang baik, tidak menyinggung apalagi menyakiti orang lain dan hanya akan menyisakan luka mendalam. Maka, pilihan yang ada hanyalah berkata yang baik atau diam.

Begitu banyak kebaikan yang disebabkan oleh lisan, sebaliknya banyak pula kerusakan yang bisa diakibatkan dari sebuah ucapan. Kala lisan kita enggan untuk berbicara baik, saat itulah kita lebih baik diam. Karena banyak bicara akan menyebabkan kita banyak salah, dan banyak salah akan menyebabkan kita banyak dosa. Maka, pilihan yang tersisa hanyalah berkata yang baik atau diam.

Dengan demikian, mulailah berlatih dengan penuh komitmen untuk bertanggung-jawab dengan kata-kata atau pembicaraan yang kita lakukan, baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Sebab Islam merupakan sistem nilai, yang sudah semestinya diterapkan secara utuh dalam kehidupan kita sehari-hari. Semoga Allah menjaga lisan kita dari berkata yang jelek, banyak bicara yang sia-sia, berujar yang provokatif dan memancing terjadinya pertengkaran. (Ummu Nazla)

News Feed