oleh

Berbagi Nggak Ada Ruginya!

Ilustrasi. (Istimewa)

“Ajari kaki menginjak debu, biar menaruh rasa pada yang tidak beralas. Biarkan angin membelai tubuh, supaya mata melirik pada mereka yang tidak berpakaian. Sesekali kosongkan perut, biar terasa rintihan kelaparan. Tidak akan pernah kita iba melihat kemiskinan bila sedetik pun tidak mau meninggalkan istana. Kita tidak mau sujud tersungkur bila kita tidak merasa di bawah. Haruskah tangan Tuhan bermain? Haruskah menjadi miskin dulu untuk bisa merasakan tangis kesusahan? Haruskah bibir kita dikunci terlebih dahulu biar tidak tenggelam dalam tawa berkepanjangan? Haruskah kita menjadi terhina dulu, untuk bisa mengulurkan tangan?….”
– Yusuf Mansyur.

Kutipan tulisan diatas tentu menyentuh hati para pembacanya. Kalimat indah yang mengingatkan diri agar selau melihat sekeliling. Nasehat untuk hati agar tak henti berdzikir dan bersyukur. Karena problematika manusia hampir serupa; banyak mengeluh dan kurang bersyukur.

Diciptakan sebagai manusia merupakan anugerah terbesar yang Allah berikan. Manusia merupakan ciptaan Allah yang paling sempurna. Sesuai dengan kalamNya dalam Al-Qur’an “Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya”(At-Tin: 4). Manusia diciptakakan lengkap dengan anggota tubuh, akal, jiwa dan dengan segala nikmat lainnya. Berbeda dengan makhluk Allah yang lain, salah satunya hewan yang tidak memiliki akal seperti manusia.

Namun nikmat ini seringkali dilupakan oleh manusia. Dalam keseharian, banyak sekali ditemukan manusia yang mengeluhkan kehidupannya. Merasa bahwa diri paling tidak beruntung dibanding yang lain. Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat” (HR. Bukhari no. 6439). Hadits tersebut menjelaskan bahwa manusia selalu merasa tidak pernah cukup atas apa yang diperolehnya. Positifnya ini akan menumbuhkan semangat untuk bekerja demi memenuhi kebutuhannya. Namun jika ini berlanjut maka dampaknya manusia akan terlalu fokus mengejar dunia sehingga melupakan hak orang lain yang ada dalam hartanya.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian” (Adz-Dzaariyaat: 19). Dari ayat tersebut jelas bahwa tiap harta yang kita miliki ada hak orang lain yang harus diberikan. Mulailah lihat sekeliling, banyak orang-orang yang harus berjalan jauh mengumpulkan sampah demi mendapat sesuap nasi. Janganlah melulu meratapi nasib dan berpikiran bahwa diri serba kekurangan. Karena bisa jadi kehidupan yang kita keluhkan adalah kehidupan yang orang lain impikan.

Tidak sedikit kisah yang dapat menyentuh hati karena berbagi. Berikut sebuah kisah dari seorang Bani Israil yang bersedekah. Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Seorang laki-laki dari Bani Israil telah berkata ‘Saya akan bersedekah’. Maka pada malam hari ia keluar untuk bersedekah. Dan ia a telah menyedekahkan (tanpa sepengetahuannya) ke tangan seorang pencuri. Pada keesokan harinya, orang-orang membicarakan peristiwa itu, yakni ada seseorang yang menyedekahkan hartanya kepada seorang pencuri. Maka orang yang bersedekah itu berkata, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekah saya telah jatuh ke tangan seorang pencuri.”

Kemudian ia berkeinginan untuk bersedekah sekali lagi. Ia bersedekah secara diam-diam, dan ternyata sedekahnya jatuh ke tangan seorang wanita (ia beranggapan bahwa seorang wanita tidaklah mungkin menjadi seorang pencuri). Pada keesokan paginya, orang-orang kembali membicarakan peristiwa semalam, bahwa ada seseorang yang bersedekah kepada seorang pelacur. Orang yang memberi sedekah tersebut berkata, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, sedekah saya telah sampai ke tangan seorang pezina.”

Pada malam ketiga, ia keluar untuk bersedekah secara diam-diam, akan tetapi sedekahnya sampai ke tangan orang kaya. Pada keesokan paginya, orang-orang berkata bahwa seseorang telah bersedekah kepada seorang kaya. Orang yang telah memberi sedekah itu berkata, “Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Sedekah saya telah sampai kepada seorang pencuri, pezina, dan orang kaya.”

Pada malam berikutnya, ia bermimpi bahwa sedekahnya telah dikabulkan oleh Allah swt. Dalam mimpinya, ia telah diberitahu bahwa wanita yang menerima sedekahnya tersebut adalah seorang pelacur, dan ia melakukan perbuatan yang keji karena kemiskinannya. Akan tetapi, setelah menerima sedekah tersebut, ia berhenti dari perbuatan dosanya. Orang yang kedua adalah orang yang mencuri karena kemiskinannya. Setelah menerima sedekah tersebut, pencuri tersebut berhenti dari perbuatan dosanya. Orang yang ketiga adalah orang yang kaya, tetapi ia tidak pernah bersedekah. Dengan menerima sedekah tersebut, ia telah mendapat pelajaran dan telah timbul perasaan di dalam hatinya bahwa dirinya lebih kaya daripada orang yang memberikan sedekah tersebut. Ia berniat ingin memberikan sedekah lebih banyak dari sedekah yang baru saja ia terima. Kemudian, orang kaya itu mendapat taufik untuk bersedekah.”

Kisah diatas mengajarkan kita agar jangan ragu untuk berbagi. Karena bisa jadi apa yang kita beri akan menjadi kebaikan bagi orang lain bahkan menjadi ajakan tidak langsung untuk bertaubat. Berbagi ibarat menyebarkan keadilan di muka bumi. Ikhlaskan berbagi hanya untuk mendapat Ridha dari Allah dan percayalah tak ada rugi dalam berbagi. (Maesya Bani)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed