oleh

Bencana Alam Salah Siapa?

Oleh: Sanya, Alumni Universitas Indonesia

Maslahat Umat | Memasuki 2021, Indonesia dihadapkan dengan bencana yang bertubi-tubi, wabah Covid-19 yang sudah mencapai 1,5 juta kasus, jatuhnya pesawat yang memakan 62 korban, gempa di Sulawesi Barat, banjir terjadi di Jabodetabek, Kalimantan Selatan, Kabupaten Lamongan dan Sidoarjo, Jawa Timur, Kabupaten Pidie, Aceh, kawasan Puncak Bogor, hingga Kota Cirebon, Jawa Barat, serta banjir dan longsor terjadi di Manado, Sulawesi Utara.

Belum lagi gunung berapi yang meletus berturut-turut dari Merapi, Semeru dan Sinabung. Bahkan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 185 bencana yang terjadi sejak 1 hingga 21/1/2021. Selain itu Indonesia juga diselimuti duka mendalam karena gugurnya para ulama, wafatnya ulama adalah musibah hilangnya ilmu di tengah umat, Allah SWT mencabut ilmu agama bagi penduduk bumi, dengan mewafatkan para ulama.

Bencana itu datang karena kehendak Allah SWT. Tetapi kita perlu intropeksi dan berupaya untuk mengatasi banjir agar tidak terus terjadi. Bencana merupakan ujian bagi orang beriman, setiap orang yang beriman pasti akan menghadapi ujian dari Allah. Maka, ketika suatu daerah dengan penduduk Muslim yang bertakwa Allah timpakan bencana, ini adalah ujian bagi mereka, agar mereka membuktikan keimanannya dan bersabar, bertawakal kepada Allah. Dengan pemahaman ini, musibah tidak selalu dipandang buruk, sebagaimana ujian sekolah yang harus susah payah dilalui, namun susah payah itu tak berarti lagi saat kita sudah melewatinya dan dinyatakan lulus.

Allah SWT berfirman, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS Al-Ankabut [29: 2]). Namun, bencana, bisa merupakan teguran dan peringatan Allah bagi kaum Muslimin khususnya dan umat manusia umumnya. Firman Allah SWT, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS Asy Syuraa: 30)

Selain itu, bencana bisa menjadi salah satu bentuk hukuman dari Allah. “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”(QS Al a’raf : 96)

Dengan memperhatikan kondisi yang saat ini terjadi, ketika dosa-dosa dan maksiat telah menyebar di seluruh negeri, sementara amar makruf nahi mungkar dibungkam, wajar bila Allah menegur dan memperingatkan kita dengan bencana demi bencana yang mendera. Memang bencana itu datang karena kehendak Allah SWT. Tetapi kita perlu intropeksi dan berupaya untuk mengatasinya agar tidak terus terjadi, sistem akan berjalan jika diatur dengan hukum Allah, bisa jadi ini terjadi karena kelalaian dan kezaliman kita serta penguasa yang menerapkan kapitalisme-sekuler.

Dalam menghadapi musibah kita tidak bisa berjuang hanya dengan rasa sabar dan doa, apa yang terjadi sudah menjadi ketetapan-Nya, tidak ada yang bisa diubah, area yang tidak kita kuasai atau qadha, maka kita harus ridha, menerima dengan ikhlas serta tawakal, tidak mencela wabah, tetap bersyukur dan tidak berputus asa. Bagaimana kita menyikapi dan  berikhtiar melewati ujian ini yang bisa kita tentukan sendiri, wilayah yang dikuasa inilah yang akan dihisab sehingga harus diupayakan seoptimal mungkin.

Solusi dengan teknologi tercanggih tidak akan berjalan jika kebijakan pemerintah tidak tegas bahkan membiarkan para korporasi bertindak semena-mena tanpa berpikir Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) atas usaha yang didirikan di daerah resapan. Kebijakan penguasa yang pro terhadap kapitalis tidak akan mungkin meninggalkan benefit yang akan diterima, selama tujuannya materi maka strategi apapun tidak dapat menyelesaikan permasalahan.

Muhasabah ini semestinya membawa kita, baik rakyat maupun penguasa, bertobat kepada Allah dan melakukan upaya perbaikan. Bertobat dari semua dosa, bertobat dari semua kezaliman yang dilakukan, bertobat dari menerapkan hukum-hukum yang bertentangan dengan hukum Allah. Selanjutnya, melakukan perbaikan dengan menerapkan hukum-hukum Allah seluruhnya, sehingga Allah akan membukakan keberkahan dari langit dan bumi sebagaimana dinyatakan dalam Qur’an Surah al-A’raf ayat 96 di atas. Yakinlah, hanya hukum Allahlah yang terbaik untuk manusia. “Bukankah Allah adalah sebaik-baik pembuat hukum?” (QS atTiin: 8).

Mengingat duka mendalam akibat hilangnya nikmat dunia, Imam al-Ghazali mengutip dari Khalifah Ali bin Abi Thalib, “Jika satu ulama wafat, maka ada sebuah lubang dalam Islam yang tak dapat ditambal kecuali oleh generasi penerusnya.” (Ihya Ulumiddin I/15).

Nah, siapkah kita menjadi generasi penerus para ulama, menjadi pewaris para Nabi dan melanjutkan estafet kebaikan untuk umat? Jangan sia-siakan waktu kita, manfaatkan segala yang kita punya saat ini untuk menempa diri menjadi lebih baik, menjadi generasi yang cinta dan bercita-cita menerapkan seluruh syariat Allah di muka bumi. Menerangi umat dengan cahaya Islam dengan menjadikan dakwah sebagai aktivitas utama. Dakwah yang tidak mengenal batas waktu serta selalu istiqamah menyuarakan kebenaran tanpa lelah hingga kematian menghentikan langkah kita.

Insyaallah Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin akan terwujud, serta alam semesta dan seluruh makhluk hidup akan terlindungi juga sejahtera bukan hanya bagi kaum Muslimin saja.[]

 

News Feed