oleh

Benarkah Islam Mengekang Hidup Manusia?

Oleh:  Deti Kutsiya Dewi

Maslahat Umat | Banyak manusia di dunia ini menginginkan kebebasan seluas-luasnya dan tidak ingin terkekang oleh berbagai macam aturan. Kuatnya keinginan dalam berkebebasan itu menjadikan mereka tidak peduli dengan norma-norma dalam bermasyarakat, salah satunya norma agama. Mereka menganggap, agama khususnya syariat Islam hanya akan mengekang mereka. Benarkah sistem Islam mengekang hidup manusia? Seperti halnya ketika ingin makan harus memperhatikan halal dan haram, ingin mencari hiburan juga harus memilih mana yang baik dan mana yang buruk berdasarkan syariat, ingin melakukan jual beli harus sesuai juga dengan syariat dan masih banyak lagi. Semakin mengetahui syariat Islam mereka semakin merasa terkekang dan merasa tidak bebas.

Mereka menganggap syariat Islam akan menghambat proses menjalani kehidupan dan menganggap seharusnya agama dan aturan-aturannya hanya ada di tempat-tempat peribadatan saja, tidak perlu dibawa ke dalam berbagai aspek kehidupan lainnya. Anggapan-anggapan ini merupakan paham sekularisme. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sekularisme adalah paham atau pandangan yang berpendirian bahwa moralitas tidak perlu didasarkan pada ajaran agama.

Faktanya, kebebasan tanpa batas merupakan hal yang mustahil terjadi di dunia ini. Kebebasan tanpa batas hanya akan menimbulkan kerusakan bagi manusia. Contohnya saja dalam perekonomian di era sekularisme ini, sistem perekonomian menganut sistem ekonomi kapitalis. Dalam sistem ekonomi, pemilik modal yang kaya semakin kaya dan buruh yang miskin semakin miskin dan terpuruk.

Selain itu, sistem hukum yang ditegakkan pun memilliki ketimpangan sosial, penguasa mendapatkan keringanan dalam menjalani hukuman, sedangkan sebaliknya, tidak ada ampun bagi kaum menengah ke bawah. Bahkan bagi pencuri yang terpaksa mencuri hanya untuk mengisi perutnya yang kelaparan. Dari sisi pergaulan di sistem sekularisme ini pun marak terjadinya pergaulan bebas, yang dapat menimbulkan berbagai penyakit bagi para pelakunya, seperti penyakit syphilis, gonorrhea, HIV dan lain sebagainya.

Fakta-fakta tersebut membuktikan segala bentuk peraturan yang tidak mengindahkan syariat di dalamnya hanya akan selalu menimbulkan kerusakan di muka bumi. Pada dasarnya, perbuatan yang dilakukan oleh manusia sering dipengaruhi oleh dorongan hawa nafsu, sehingga saat mereka meninggalkan syariat, otomatis akan terjerumus ke dalam hawa nafsu yang dikendalikan setan. Sejatinya hawa nafsu manusia selalu menggiring kepada keburukan dan kerusakan, seperti dalam firman Allah SWT,

“Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Yusuf: 53).

Dan firman-Nya,“Dan seandainya kebenaran itu menuruti keinginan mereka, pasti binasalah langit dan bumi, dan semua yang ada di dalamnya. Bahkan Kami telah memberikan peringatan kepada mereka, tetapi mereka berpaling dari peringatan itu.” (QS al-Mu’minun: 71).

Oleh karena itu, dapat disimpulkan kebebasan hakiki yang mendatangkan kebahagiaan bagi manusia tidak mungkin didapatkan dari meninggalkan syariat. Sesungguhnya syariat Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam. Islam akan mengantarkan pemeluknya menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, seperti dalam firman Allah SWT,

“Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syariat (peraturan) dari agama itu, maka ikutilah (syariat itu) dan janganlah engkau ikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS al-Jatsiyah: 18).

Dalam firman-firman Allah SWT di atas, dapat disimpulkan juga bahwa hanya
Allahlah sebaik-baik pembuat aturan. Allah SWT yang paling memahami baik dan buruk sesuatu hal bagi makhluk ciptaan-Nya. Syariat Islam diberikan kepada manusia melalui Rasulullah SAW bukan sebagai pengekang manusia, melainkan sebagai petunjuk bagi manusia. Aturan-aturan Islam tentunya merupakan aturan yang terbaik bagi manusia, karena aturan tersebut memuaskan akal pikiran, menenangkan hati dan tentunya sesuai dengan fitrah manusia.

Memang pada zaman sekularisme ini, apabila kita teguh dalam menjalani kehidupan berdasarkan syariat, sulitnya sangat luar biasa. Karena sistem sekularisme ini menjadikan perbuatan yang batil menjadi sesuatu yang biasa dan menggiurkan di mata masyarakat dan sebaliknya, membuat syariat menjadi suatu hal yang tidak biasa dan mengerikan.

Fenomena tersebut sesuai dengan hadits Rasululullah SAW yang mengatakan, “Akan ada hari-hari (yang kalian wajib) bersabar. Bersabar pada saat itu seperti seseorang yang memegang bara api dan orang yang beramal pada saat itu pahalanya sebanding dengan lima puluh kali amalan orang yang beramal seperti amalnya. Abu Tsa’labah bertanya, “Wahai Rasulullah, seperti pahala lima puluh orang dari mereka?” Beliau menjawab, “(Bahkan) seperti pahala lima puluh orang dari kalian.” (HR. Abu Daud).

Menurut hadits di atas, taat di tengah kehidupan saat ini rasanya memang berat seperti seseorang yang menggenggam bara api, panas dan menyakitkan, karena aturan yang dipakai berlawanan dengan syariat yang kita pegang. Tapi hanya inilah pilihan kita agar kita bisa selamat dan bahagia di dunia dan akhirat. Karena bila kita tinggalkan, kita akan tersesat dan terjerumus dalam hal-hal yang merusak diri.

Solusi dari kesulitan ini memang perlu adanya peranan negara sebagai pemegang dan penegak hukum bagi seluruh masyarakat untuk menerapkan aturan-aturan Islam. Namun sebelum itu terjadi, perlulah adanya individu yang bertakwa yang kemudian menciptakan masyarakat yang peduli yang memiliki pemikiran dan perasaan yang sama sehingga terbentuklah negara yang menerapkan syariat secara menyeluruh mencakum semua aspek kehidupan.

Maka dari itu, mari ubah paham kita dari sekularisme menjadi paham Islam, dengan cara mengkaji Islam secara menyeluruh dan berjamaah sehingga kita dapat menyadari bahwa syariat Islam bukanlah pengekang kehidupan, melainkan petunjuk bagi kita untuk menuju ke kebebasan dan kebahagiaan yang hakiki. []

 

 

 

News Feed