oleh

Benarkah Inflasi Pernah Terjadi pada Masa Umar Bin Khatab?

Sebagai pelaku ekonom tak jarang dari kita yang begitu sensitif dengan masalah keuangan misalkan ketika harga pasar mulai naik. sebenarnya hal apa yang menyebabkan itu terjadi ? dan mengapa hal ini penting untuk kita ketahui ? contoh ketika misalkan pada saat anda berada di bangku SD. Anda cukup membeli bubur ayam dengan harga 3000/porsi tapi ketika anda beranjak masuk universitas anda bisa mendapatkan bubur ayam dengan harga 10.000/15.000 per porsi. Nah mengapa hal itu bisa terjadi ? Ya, jawaban nya adalah Inflasi.

Menurut Irving Fisher dalam bukunya yang berjudul The Debt Deflation Theory Of Great Defressions, Fisher The Purchasing Power Of Money Inflasi itu di pengaruhi oleh pertambahan uang yang beredar dan anggapan masyarakat terhadap kenaikan harga.

Sedangkan menurut Rachmat Rizqy Kurniawan, SEI, MM selaku dosen dari mata kuliah Ekonomi Makro Islam STEI SEBI Depok beliau berstatement bahwa “Inflasi bukan Kenaikan harga harga barang. Tetapi kenaikan harga barang itu akibat inflasi yang menyebabkan harga barang tsb naik, inflasi sendiri karena turunnya nilai mata uang akibat mencetak uang secara tidak proposional artinya jumlah peredaran barang dan jasa suatu negara tidak sebanding atau lebih kecil dengan uang yang di cetak atau beredar di negara tersebut”.

Singkatnya inflasi di sebabkan salahsatunya karena percetakan uang yang tidak terkendali. Contonya ketika melihat beberapa negara seperti Somalia dan Zimbabwe. Di negara zimbabwe pernah terjadi Inflasi pada tahun 2000 mencapai lebih dari 55 persen, dan hanya dalam satu tahun berikutnya di 2001 sudah melempaui 112 persen. Di Negara Zimbabwe mereka mencetak uang secara berlebihan, akibatnya kondisi perekonomian terus menerus jatuh, tingkat pengangguran disana mencapai 80-94%, banyak pabrik-pabrik manufaktur yang tutup, sementara suplai makanan langka.

Lalu ketika kita melihat sejarah Islam, apakah dalam Islam pernah mengalami inflasi ?

Beberapa contoh inflasi yang terjadi pada masa kekhalifahan Islam adalah pada masa khulafaa’ur-raasyidin, yaitu masa pemerintahan Umar ibn al-Khattab, pernah terjadi inflasi dalam perekonomian khilafah Islam. Inflasi ini terjadi karena kekeringan yang terjadi saat itu. Sehingga supply makanan (gandum) yang ada berkurang dan menjadi langka, dan menyebabkan harga makanan tersebut menjadi naik. Dan pada fase 2 perkembangan ekonomi Islam, zaman Ibnu Taimiyah, terjadi pula inflasi yang disebabkan oleh penimbunan barang-barang (ikhtikar) oleh penduduk di zaman itu.

Rachmat Rizqy Kurniawan, SEI, MM selaku dosen mata kuliah Ekonomi Makro Islam STEI SEBI Depok beliau berpendapat “Jadi, yang benar, inflasi hanya pernah terjadi pada masa kesultanan Mesir yang ketika itu mencetak fulus. Inflasi tidak pernah terjadi pada masa pemerintahan oleh islam kecuali dimasa dinasti mamluk yang sesungguhnya bukan orang islam, mereka itu para budak hasil tawanan perang”

Inflasi pada zaman daulah mamluk ( budak orang islam yang di tempatkan di mesir. ketika turki jatuh mereka mendirikan daulah di mesir) dengan itu mereka mulai mencetak uang. Bahkan pada masa Rasulullah uang islam diterbitkan secara resmi dalam bentuk dinar dan dirham yang mana dicetak sesuai timbangan yang telah di tentukan oleh Rasulullah.

Dalam pandangan Al-Maqrizi, kekacauan pada fenomena sosial ekonomi di Mesir mulai terlihat ketika pengaruh kaum mamluk semakin kuat di kalangan istana, termasuk terhadap kebijakan percetakan mata uang dirham campuran. Pencetakan fulus, mata uang yang terbuat dari tembaga, dimulai pada masa pemerintahan Dinasti Ayyubiyah, Sultan Muhammad AlKamil ibnu Al-Adil Al-Ayyubi, yang dimaksudkan sebagai alat tukar terhadap barang-barang yang tidak signifikan dengan rasio 48 fulus untuk setiap dirhamnya.46

Perubahan yang sangat signifikan terhadap mata uang ini terjadi pada tahun 76 H. Setelah berhasil menciptakan stabilitas politik dan keamanan, khalifah Abdul Malik ibnu Marwan melakukan reformasi moneter dengan mencetak dinar dan dirham Islam. Penggunaan kedua mata uang ini terus berlanjut, tanpa perubahan yang berarti, hingga pemerintahan Al-Mu’tashim, Khalifah terakhir dinasti Abbasyiah.

Penyusun: Via Nurafifah

News Feed