oleh

Apa Itu Tasamuh dan Tasyabuh?

Maslahat Umat | Intoleransi belakangan ini telah mengancam kehidupan kita yang menyebabkan kematian, genosida, kekerasan, penganiayaan agama serta konfrontasi di berbagai tingkatan. Terkadang ras dan etnis, terkadang agama dan ideologis dan terkadang politik dan sosial. Apa pun alasannya, intoleransi sangat menyakitkan di setiap situasi dan kondisi…

Intoleransi adalah keengganan untuk menerima pandangan, keyakinan atau perilaku yang berbeda dari satu orang ke orang lain. Agama Islam memiliki sebuah konsep toleransi antar sesama umat yang dapat menjadi tonggak kedamaian dalam beragama. Konsep ini disebut dengan tasamuh (toleransi)…

Saudaraku, Tasamuh adalah suatu sikap menghargai pendirian seseorang (bisa pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, dan kelakuan) yang berbeda dan bertentangan dengan pendirian kita sendiri…

Jadi, di dalam sikap tasamuh juga mengandung sikap lainnya seperti lapang dada, menahan diri, tenggang rasa, dan tidak memaksakan kehendak kepada orang lain…

Allah Azza wa Jalla berfirman, “Tidak ada paksaan dalam memeluk agama. Sungguh telah jelas antara kebenaran dan kesesatan.” (QS. Al Baqarah: 256).

Firman Allah Azza,wa Jalla yang disebutkan di atas memberikan perintah untuk tidak memaksa orang, menyampaikan pesan kepada mereka dengan cara yang layak dan jelas, mengajak mereka kepada kebenaran dan melakukan yang terbaik dalam menyampaikan dan menyampaikan pesan Allah Azza wa Jalla kepada umat manusia, sementara itu sepenuhnya terserah mereka untuk menerima atau menolaknya…

Umat Islam diperintahkan untuk menjaga hubungan baik dengan non-Muslim dengan tasamuh (toleransi), tetapi tidak boleh dengan tasyabbuh (menyerupai) non muslim…Mengenai larangan tasyabbuh disebutkan dalam hadits dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031. Syaikhul Islam dalam Iqtidha‘ 1: 269 mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid/bagus. Al Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami.” (HR. Tirmidzi no. 2695. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Saudaraku, Tasyabbuh memberikan efek, sebagaimana Ibnu Taimiyah dalam kitabnya berkata, “Sesungguhnya tasyabbuh (meniru gaya) orang kafir secara lahiriyah mewariskan kecintaan dan kesetiaan dalam batin. Begitu pula kecintaan dalam batin mewariskan tasyabbuh secara lahiriyah. Hal ini sudah terbukti secara inderawi atau eksperimen. Sampai-sampai jika ada dua orang yang dulunya berasal dari kampung yang sama, kemudian bertemu lagi di negeri asing, pasti ada kecintaan, kesetiaan dan saling berkasih sayang. Walau dulu di negerinya sendiri tidak saling kenal atau saling terpisah.” (Iqtidha’ Ash Shirathil Mustaqim, 1: 549)

Kapan Disebut Tasyabbuh? Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Patokan disebut tasyabbuh adalah jika melakukan sesuatu yang menjadi kekhususan orang yang ditiru. Misalnya yang disebut tasyabbuh pada kafir adalah seorang muslim melakukan sesuatu yang menjadi kekhususan orang kafir. Adapun jika sesuatu sudah tersebar di tengah-tengah kaum muslimin dan tidak jadi kekhasan atau pembeda dengan orang kafir, maka tidak lagi disebut tasyabbuh. Seperti itu tidaklah dihukumi tasyabbuh, namun bisa jadi dinilai haram dari sisi lain.” (Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, 3: 30).

Contoh tasyabbuh yang dilarang dalam Islam yaitu seperti mengucapkan selamat pada perayaan non muslim. Karena dengan mengucapkan selamat pada perayaan non muslim berarti membenarkan apa yang mereka yakini. Bermudah-mudahan dalam tasyabbuh yang haram semacam itu bisa jadi mengantarkan pada kekufuran, wal ‘iyadzu billah. (Fatawa Al Lajnah Ad Daimah, 3: 308).

Mencukur jenggot termasuk tasyabbuh pada orang kafir yang diharamkan, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah lewat,“Pendekkanlah kumis dan biarkanlah (perihalah) jenggot dan selisilah Majusi.” (HR. Muslim no. 260).

“Selisilah orang-orang musyrik. Biarkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis.” (HR. Bukhari no. 5892 dan Muslim no. 259)

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap senantiasa tasamuh dan menghindari tasyabbuh untuk meraih ridha-Nya.. Aamiin Ya Rabb. Wallahua’lam bishawab. []

News Feed