oleh

Aktivitas Ghibah yang Dibolehkan

Oleh: Azizha Nur Dahlia, Mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika

Maslahat Umat | Belakangan ada film menarik yang berjudul ‘Tilik’. Berkisah tentang perjalanan beberapa tetangga yang ingin menjenguk di rumah sakit. Namun yang ditekankan dalam film ini adalah aktivitas yang diisi selama perjalanan tersebut. Bukan kontes patung tentunya juga bukan berdoa bersama tapi adalah ghibah.

Seperti yang kita tahu aktivitas ghibah ini haram hukumnya. Namun apalah daya kita hidup di zaman sekuler seperti ini dengan ada pemisahan agama dengan kehidupan. Jadi ya yang haram bisa jadi halal begitu pun sebaliknya. Punya aktivitas ghibah ini berubah jadi halal sampai ada tagline ‘Enggak Ghibah Enggak Asik’.

Miris. Tentu. Inilah kehidupan sekarang. Ghibah justru menjadi agenda wajib ketika ada agenda bertemu dengan teman dan orang lainnya. Mungkin karena tidak tahu atau tidak mau disalahkan karena melakukan aktivitas ini 1000 cara dilakukan untuk mengelak. Padahal seseorang itu berbicara berdasarkan kesehariannya yaitu lingkungan, teman, tontonan khusus.

Lingkungan dan teman sangat berpengaruh sekali untuk membentuk keseharian kita. Manusia itu diibaratkan lahan kosong. Apabila ditanami pohon, maka yang tumbuhlah pohon tapi kalau dibiarkan kosong maka yang akan tumbuh adalah rumput liar, karena manusia itu sensitif dan mudah dipengaruhi. Lalu yang berikutnya adanya tontonan khusus, ini juga karena media kita kebetulan sangat memfasilitasi sekali terutama di bagian showbiz, ada bahkan jam-jam khusus untuk penayangannya dan kebanyakan ghibah sampai dibuatkan hotnews juga.

Di media sosial pun begitu banyak akun-akun yang menyediakan berita ghibah seperti ini dan bisa dilihat juga followers-nya banyak sekali atau Youtube kebanyakan video yang trending juga adalah berita ghibah. Berarti ini membuktikan, betapa biasanya masyarakat kita mengonsumsi hal haram seperti ini. Astagfirullah.

Dosa dari ghibah enggak main-main. Seperti yang dijelaskan dalam Surah Al-Hujurat ayat 12 ini adalah memakan bangkai saudaranya sendiri. Tentu menjijikan bukan? Maka dari itu, Allah memerintahkan untuk bertaubat agar menjadi hamba yang bertakwa.

Tapi mungkin banyak yang berdalih, ‘Ya enggak ghibah dong orang itu fakta’. Sayangnya justru gosipnya benar jadi ghibah, gosipnya salah jadi fitnah. Seperti yang diungkapakan Abu Hurairah menuturkan Nabi Muhammad Rasulullah SAW bersabda: “Tahukah engkau apa yang dimaksud dengan ghibah? Allah dan Rasul-Nya lah yang tahu,” jawab Abu Hurairah. Rasulullah menjelaskan: “Ghibah adalah membicarakan keburukan orang lain tanpa sepengetahuan yang bersangkutan. Bagaimana kalau yang dibicarakan itu benar adanya? Apabila yang engkau bicarakan itu benar, berarti engkau menggunjing,” tegas Rasulullah. “Dan jika tidak benar, berarti engkau melakukan suatu kebohongan (fitnah) tentang dia.” (HR Muslim)

Walaupun ghibah ini tidak hanya dilakukan Muslimah namun juga Muslim, namun Rasulullah menekankan Muslimah untuk menjaga lisannya seperti di dalam Ash-shahihah. Juga melakukan aktivitas ghibah ini akan menjadikan bangkrut karena mentransfer pahala kita kepada pihak yang di ghibahi. Amalan-amalan yang dikumpulkan malah lenyap tak bersisa lalu juga Allah juga akan melemparkan ke dalam neraka. Naudzubillah.

Ghibah merupakan salah satu penyebab lemahnya iman. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah istiqamah iman seorang hamba sampai istiqamah hatinya dan tidaklah istiqamah hatinya sampai istiqamah lisannya.” (HR. Imam Ahmad, dinilai hasan Oleh Syaikh Al-Albani).

Maka, ketika kita mendapatkan kabar kita diperintahkan untuk berbicara yang baik kalau tidak bisa ya diam. Dan kita pun harus sadar bahwa setiap orang itu tidak luput dari yang namanya kesalahan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-sebaik orang yang berbuat kesalahan adalah yang bertaubat.” Juga bisa jadi orang yang bisa lebih banyak amalannya ketimbang diri kita ini.

Namun, di sini ghibah ada yang halal dan ternyata dibolehkan. Dalam kitab, Raudhatu at-Thalibin wa ‘Umdatu al-Muftin, dan al-Adzkar, Imam an-Nawawi menyatakan, “Ghibah” itu dibolehkan karena ada enam alasan:

Pertama, mengadukan kezaliman. Boleh bagi orang yang dizalimi untuk mengadukan kezaliman kepada Sultan (khalifah), Qadhi (hakim) dan lainnya yang mempunyai kekuasaan atau kemampuan untuk menegakkan keadilan dari pelaku yang telah mezaliminya. Maka, dia bisa mengatakan, “Saya telah dizalimi Si Fulan. Dia telah melakukan begini kepada saya.”

Kedua, meminta bantuan untuk mengubah kemungkaran, mengembalikan orang yang maksiat agar kembali ke jalan yang benar. Maka, dia bisa mengatakan kepada siapa saja yang diharapkan, dengan kemampuannya, bisa menghilangkan kemunkaran. “Si Fulan telah melakukan perbuatan begini, maka cegahlah dia dari perbuatan itu.” Atau sejenisnya.

Ketiga, meminta fatwa. Misalnya, mengatakan kepada Mufti, “Saya telah dizalimi Si Fulan, atau ayahku, atau saudaraku begini. Apakah dia berhak melakukan itu, atau tidak? Lalu, bagaimana caranya saya bisa melepaskan diri dari kezalimannya dan mengelakkan kezalimannya terhadap diriku?” dan sejenisnya.

Begitu juga, dia mengatakan, “Isteriku telah melakukan begini denganku.” Atau, “Suamiku telah memukulku dan mengatakan kepadaku begini.” Semuanya ini boleh, karena dibutuhkan. Untuk lebih berhati-hati, hendaknya dia mengatakan, “Bagaimana pendapat Anda terhadap seseorang, suami, atau orang tua dengan tindakannya begini?”

Keempat, memberi peringatan kepada kaum Muslim akan keburukannya. Jika Anda melihat seseorang membeli barang yang cacat, atau budak yang tukang mencuri, pezina, atau pemabuk, lalu Anda mengingatkan pembelinya, jika dia belum mengetahuinya, sebagai bentuk nasihat, bukan untuk tujuan menyusahkan atau merusaknya.

Kelima, orang yang mendemonstrasikan kefasikan, atau bid’ahnya. Seperti minum khamer, menyita harta milik masyarakat, menarik pajak, mengendalikan perkara-perkara yang batil, maka boleh disebutkan apa yang dia demonstrasikan itu. Sedangkan yang lain tidak boleh, kecuali ada alasan lain.

Keenam, memperkenalkan nama. Jika orang itu dikenal dengan gelar, seperti al-A’masy (rabun), al-A’raj (pincang), al-Qashir (pendek) dan sebagainya. Boleh mengenalkannya dengan gelar itu. Tapi, haram menyebut gelar tersebut, jika dimaksud untuk melecehkannya. Jika bisa memperkenalkan dengan gelar lain, tentu lebih baik.

Lalu bagaimana agar bisa terhindar dari aktivitas ini? Pertama, dengan mencari lingkungan yang benar-benar baik. Kedua, menjauhi penyebab terjadinya gosip. Ketiga, memilah informasi yang diterima.

Juga ketika kita melihat teman kita berbuat kesalahan jangan diumbar ke hadapan publik, namun nasihatilah dengan baik. Menurut Imam Syafi’i “Barang siapa menasihati saudaranya dengan sembunyi-sembunyi berarti ia telah menasihati dengan mengindahkannya. Barang siapa menasihati dengan terang-terangan, berarti ia telah mempermalukan dan memburukkannya.”

Sebagai pemuda yang memiliki beban ‘The Agent of Change’ punya tanggung jawab tentang masa depan dunia. Baik buruknya masa depan masyarakat, sebagian besar ada di pundak kita pemuda. Lantas kalau kita terus menyibukkan diri dalam perbuatan yang sia-sia bahkan dosa, apa kabar masa depan bangsa?

Yuk mari jadi pribadi yang lebih baik. Jadi bagian orang-orang yang membangun peradaban Islam dan umat ini lebih baik lagi. Menjadi agen perubahan, dimulai dari kita yang merubah sikap dan kebiasaan amal shalih, untuk merubah masyarakat dan dunia dengan wajah berkah ala Islam. []

 

News Feed