oleh

Akad-Akad Bermasalah dalam Muamalah

Oleh: Devi | Alumni IAIN Pontianak

Maslahat Umat | Anggapan bahwa riba yang sedikit itu boleh dan bunga bank yang produktif dibolehkan adalah sesuatu yang perlu kita kaji kembali. Hal ini menunjukkan bukti keimanan kepada Allah SWT, karena banyaknya konsep batil yang dikemas sedemikian cantik ternyata menghantarkan kita para kemurkaan Allah SWT. Dalam bermuamalah misalnya, banyak oknum bahkan isntansi yang terjebak dalam aktivitas riba ini.

Adapun tujuh akad bermasalah dalam bermuamalah yang akan perlu untuk dikaji dan pahami yakni, pertama, riba. Yakni setipa keuntungan/tambahan yang diambil terhadap suatu pinjaman sebagai imbalan karena masa menunggu. Adapun riba terbagi menjadi 4 jenis: riba jahiliyah, riba nasiah, riba fadhl dan riba yad. Perlu kita waspadai bahwannya riba dalam bentuk bunga, margin, hadiah, E-money (boleh, selagi tidak ada manfaat yang diambil), pinalti, kartu kredit, denda dan sejenisnya. Selain kategori di atas, riba juga bisa muncul dari manfaat yang diberikan dari utang piutang tersebut, jadi tidak hanya berbentuk uang saja.

Kedua, menjual barang ribawi yang tidak yadan bin yadin. Yaitu pembelian akan barang tersebut tidak boleh kredit dan tidak pula online/di luar jangkauan. Adapun barang-barang tersebut yakni; gandum, kurma, garam, emas dan perak (mata uang),  jawawut harus dilakukan yadan bin yadin.

Ketiga, multi akad. Yakni kesepakatan kedua belah pihak untuk melakukan dua akad atau lebih sekaligus. Contohnya seperti leasing (yaitu menggabungkan antara akan beli dan sewa), pegadaian syariah (yaitu penggabungan antara akad Qard (pinjam meminjam)  dan ijarah (sewa/upah mengupah) dan memesan makan lewat Gojek (penggabungan akad Qard dan ijarah).

Keempat, menjual barang yang belum dimiliki(dropshipping), yakni menjual barang yang tidak di sisi kita dan bukan milik kita.

Kelima, menjual barang yang belum kita terima. Rasulullah SAW melarang kami menjual barangnya kembali sampai sampai kami memindahkan barang tersebut ke tangan kami.

Keenam, akad makelar di atas makelar. Contohnya multi level marketing atau menjual rumah tapi broker lebih dari satu. Dalam Islam konpensasi boleh diambil atas dua kemungkinan yakni atas jasa atau atas barang.

Ketujuh, pemberian upah yang tidak syari yaitu berdasarkan porsentase penjualan atau mengupah berdasarkan UMR.

Itulah akad bermasalah yang dikemas dengan rapi padahal sejatinya diharamkan oleh aturan sang Ilahi Rabbii. Inilah kenapa Umar bin Khattab melarang seseorang untuk berdagang sampai orang tersebut benar-benar paham seluk beluk riba. Oleh karena itu, Allah SWT telah menurunkan syariat agung-Nya untuk menyelesaikan permasalahan umat manusia termasuk permasalahan riba ini, sebagimna firman Allah SWT dalam Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 27 yang artinya, “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” []

News Feed