oleh

Adakah Feminisme dalam Islam?

Oleh: Sanya Khaerunnisa | Mahasiswi Universitas Indonesia

Maslahat Umat | Feminin adalah sifat kewanitaan yang ingin tampil cantik, bersifat keibuan. Sedangkan feminis merupakan gelar yang disandang kaum feminisme. Lalu apa yang dimaksud dengan feminisme? Feminisme adalah pemahaman terkait pembebasan dan persamaan hak perempuan akibat adanya ketidakadilan dan pembatasan hak disetiap aspek kehidupan karena perbedaan jenis kelamin. Beberapa tuntutan feminisme di antaranya, kalau laki-laki boleh, perempuan juga boleh. Kalau laki-laki bisa, perempuan juga bisa. Laki-laki dan perempuan seharusnya punya hak yang sama, maka kami butuh kesetaraan.

Istilah feminisme sudah muncul sejak abad ke-17 di Eropa, pelopornya Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet hingga terbentuknya komunitas ilmiah perempuan pertama di Middelburg, sebuah kota di selatan Belanda pada 1785. Feminis ini vokal ke arah persamaan gender, menghargai LGBT, empowering women alisa perempuan bebas kerja apapun.

Feminisme saat ini sudah mempengaruhi kebijakan-kebijakan di dalam negeri dan luar negeri yang nyatanya dijadikan sebagai alat penjajahan untuk mendukung kapitalisasi dan liberalisasi proyek asing. Perempuan dijadikan sebagai alat untuk meyangga roda perekonomian bahkan akhirnya menggadaikan peran utama mereka sebagai ummu warobatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga).

Pemaksaan kaum feminis dalam menghilangkan kekerasan semata-mata tidak hanya bertujuan memberi rasa aman bagi kaum perempuan tetapi juga dilakukan untuk kepentingan kapitalisasi karena kasus kekerasan perempuan menimbulkan permasalahan dan beban sosial serta ekonomi. Kerugian-kerugian yang diihasilkan oleh kasus kekerasan terhadap perempuan telah menghabiskan hampir 12 triliun USD per tahun.

Selain kepentingan kapitalis, feminisme juga mendukung  kepentingan liberalis, dengan feminisme, perempuan-perempuan akan mendapat kebebasan terhadap cara melakukan hubungan sosial, cara berpakaian, kebebasan berekspresi, dan juga kebebasan bertindak. Bukti-bukti inilah yang menunjukkan bahwa feminisme merupakan propaganda Barat yang membuat masyarakat merasa biasa dengan kebebasan-kebabasan yang justru semakin memperparah kejahatan dan kekerasan seksual lain. Jadi, adakah feminisme dalam Islam?

Jauh sebelum femins bergerak, abad 7 Masehi turun petunjuk yang diperuntukan untuk manusia yaitu, Al-Qur’an yang disampaikan Rasulullah SAW. Jauh sebelumnya, Islam telah memberikan segudang kemuliaan. Laki-laki dan perempuan diciptakan oleh Allah SWT dengan perbedaan yang sejatinya bukan ditujukan untuk saling bersaing, tapi untuk saling melengkapi. Dalam Islam, laki-laki dan perempuan dipandang sama sebagai makhluk Allah SWT dengan tujuan penciptaan yang sama, menyembah Allah SWT dengan sebaik-baiknya ibadah.

Di dalam Al-Qur’an Surah an-Nisa ayat 32 Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Serta dalam Al-Qur’an Surah at-Taubah ayat 71 yang artinya,  “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan salat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

Prinsip relasi antara laki-laki dan perempuan sebagai individu, masyarakat, dan hamba di hadapan Allah SWT adalah untuk saling tolong menolong (taawun). Islam melihat laki-laki dan perempuan dengan pandangan proporsional, tidak memakai pandangan objektif atau asumtif seperti di negeri-negeri Eropa tadi.

Pernah dengar kisah budak perempuan di Kota Ammuriah  saat masa Khalifah Al Mu’tasim? Itulah Islam selalu memuliakan. Islam ingin menjaga kita dengan sebaik-baiknya penjagaan. Pembicaraan tentang wanita dalam Islam itu bukan pembicaraan yang ala kadarnya, bukan pembicaraan yang sifatnya tambahan. Tapi sejatinya pembicaraan tentang wanita dalam Islam  itu adalah pembicaraan tentang sebuah peradaban besar. Bukankah dengan adanya Surah an-Nisaa dalam Al-Qur’an itu suatu tanda dari Allah wanita dalam Islam itu sangat terhormat? Sangat mulia?

Perempuan dan laki-laki diciptakan dengan fisik yang berbeda, jadi tidak akan mungkin bisa sama, beban sesuai sifat dan tabiatnya pun berbeda. Jika yang dituntut hanya kedudukan dunia, dijamin apa yang dimau tidak akan terpuaskan dan sampai kapanpun laki-laki dan perempuan tidak akan bisa setara. Akan tetapi, keduanya bisa menjadi orang yang bertakwa.

Jadi, setara itu tidak harus sama rata sama rasa. Pencapaian derajat ketakwaan tidak berdasarkan perbedaan jenis kelamin tertentu (QS al-Hujurat ayat13). Selain itu, laki-laki dan perempuan memiliki potensi yang sama dalam meraih prestasi (QS ali-Imran ayat 195, QS an-Nisa’ ayat 124, QS an-Nahl, ayat 97, QS  Ghafir ayat 40).

Al-Qur’an sebagai landasan berpikir dan bertindak dalam agama Islam justru melegitimasi eksistensi keberadaan wanita. Wanita diberikan porsi hak, kewajiban dan hukum yang sama dengan laki-laki. Islam memberikan ruang dan lingkungan sosial yang layak bagi perempuan. Tidak seperti kebudayaan elite Yunani yang mengharuskan wanita selalu berada di dalam istana.

Islam memberikan ruang bagi wanita untuk keluar dan berinteraksi. Namun, dengan syarat tetap berpegang teguh pada hukum syara’ (syariat Islam).  Wanita juga mendapatkan kebebasan untuk ikut andil dalam bidang ekonomi. Perempuan memiliki hak untuk mengatur perdagangan seperti halnya kaum laki-laki, contohnya Khadijah, istri Rasulullah SAW.

Islam juga memberikan ruang gerak bagi perempuan untuk berpartisipasi dalam ruang publik. Aisyah, istri Rasulullah SAW yang paling muda merupakan salah seorang perawi hadits yang terkenal. Beliau mendapatkan ruang publik untuk bebas bergerak dalam bidang pendidikan. Jadi dapat terlihat sebenarnya Islam sangat memuliakan perempuan, berbeda dengan pemahaman terkait feminisme yang sebenarnya merendahkan kaum perempuan, menimbulkan kerusakan, dan memperparah masalah kekerasan dan pergaulan bebas

Islam telah mengatur, menjelaskan secara jelas kedudukan, peran dan fungsi perempuan dalam keluarga, masyarakat dan negara. Gugatan yang dilancarkan oleh gerakan feminisme dilakukan oleh perempuan yang kurang tahu tentang hak dan kewajiban yang sudah diatur dalam ajaran Islam. Sebagai seorang aktivis Muslim sudah sepatutnya kita tidak mudah terpengaruh dengan ide-ide Barat, justru semakin istiqamah mempelajari Islam kaffah, selalu melakukan analisis serta kajian dan menyampaikan kebenaran kepada publik melalui sebuah metode yang disebut dakwah, karena tidak ada segala bentuk keburukan, penindasan dan ketidakadilan dalam Islam. Juga membuat opini-opini dan konten dakwah yang dikemas dengan bentuk yang kreatif dan mudah dipahami sebagai bentuk perlawanan terhadap gerakan dan ide-ide feminisme.

“Barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun.” (TQS an-Nisa: 124).

Dari sini jelaslah bahwa ajaran Islam tidak layak disebut patriarkis, sebab secara umum, ajaran Islam berlaku sama antara laki-laki dan perempuan. Tak ada satu pihak yang lebih berkuasa dibanding pihak yang lain.[]

 

 

News Feed