oleh

Ada Apa dengan Sya’ban?

Diasuh oleh: Ustadz Faisal Kunhi MA

Maslahat Umat | Sekarang kita sudah memasuki bulan Sya’ban, bulan dimana kita menanam kebaikan agar kita bisa menuai berbagai macam kebaikan di bulan Ramadhan yang mulia nanti.

Abu Bakar Al Bakhli berkata, “Bulan Rajab adalah bulan menanam, bulan Sya’ban adalah bulan mengairi tanaman dan bulan Ramadhan adalah bulan menuai apa yang di tanam.“

Karenanya siapa yang tidak bersemangat di bulan Sya’ban maka ia akan malas menjemput pahala dan keberkahan di bulan Ramadhan. Bulan Rajab dan Sya’ban diibaratkan seperti bulan pemanasan, agar semangat ibadah di bulan Ramadhan nanti tidak pernah padam sampai akhir, karena nilai sebuah amal adalah bagaimana akhirnya.

Banyak yang bisa memulai dengan baik, tetapi sedikit yang bisa mengakhir dengan baik. Semangat dan tidaknya kita di bulan Sya’ban akan menentukan apakah kita akan husnul khatimah atau su’ul khatimah saat Ramadhan nanti.

Lalu amalan apa yang dicintai Allah di bulan Sya’ban ini?

Pertama : Adalah memperbanyak puasa; bisa dengan puasa Senin-Kamis, puasa Daud atau puasa sepanjang bulan Sya’ban sebagaimana yang dilakukan oleh Rasululullah SAW; lakukanlah puasa sunnah semampu kita di bulan ini, dan apa yang tidak bisa kita lakukan semuanya jangan kita tinggalkan semua.

Kata Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Syakban.” (HR. Bukhari, no. 1969 dan Muslim, no. 1156).

Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah dalam Lathaif Al-Ma’arif mengatakan, “Diantara rahasia kenapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak berpuasa di bulan Syakban karena puasa Syakban adalah ibarat ibadah rawatib (ibadah sunnah yang mengiringi ibadah wajib). Sebagaimana shalat rawatib adalah shalat yang memiliki keutamaan karena dia mengiringi shalat wajib, sebelum atau sesudahnya, demikianlah puasa Syakban. Karena puasa di bulan Syakban sangat dekat dengan puasa Ramadan, maka puasa tersebut memiliki keutamaan. Dan puasa ini bisa menyempurnakan puasa wajib di bulan Ramadan.”

Kedua : Membayar hutang puasa.

Kata Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Aku dahulu punya kewajiban puasa. Aku tidaklah bisa membayar utang puasa tersebut kecuali pada bulan Syakban.” (HR. Bukhari, no. 1950 dan Muslim, no. 1146).

Hadits di atas bukanlah hujjah bahwa kita bermalas-malas dalam membayar hutang puasa dan menunggu waktu Sya’ban, tentunya semakin cepat dibayar semakin baik karena hutang kepada Allah lebih utama untuk dilunaskan, sebab kita tidak mengetahui kapan ajal datang menjemput.

Aishah melakukan demikian tentunya ia memilki udzur syar’I dan tidak mungkin beliau sebagai orang yang lalai dalam membayar hutangnya kepada Allah.

Ketiga : Ulama menganjurkan untuk memperbanyak membaca Alquran sejak bulan Syakban untuk lebih menyemangati membacanya di bulan Ramadan.

Salamah bin Kahiil berkata, “Dahulu bulan Syakban disebut pula dengan bulan para qurra’ (pembaca Alquran)

Bahkan dahulu ada salafus shalih yang menutup tokonya agar ia bisa konsentrasi membaca Al Quran.

Bulan Sya’ban adalah bulan kita melatih kedekatan dengan Al Quran, agar kita bisa mengkhatamkan sebanyak-sebanyaknya di bulan Ramadhan nanti dengan tetap membacanya secara tartil dan tidak lupa juga untuk mentadaburinya, karena Ibnu Taimiah berkata, “Siapa yang tidak membaca Al Quran maka ia telah meninggalkannya; siapa yang membacanya tetapi tidak mentadaburinya maka ia telah meninggalkannya; dan siapa yang membacanya dan mentadaburinya tetapi tidak mengamalkannya maka ia telah meninggalkan Al Quran.”

Sungguh rugi mereka yang tidak bisa mengkhatamkan Al Quran di bulan Sya’ban dan lebih rugi lagi mereka yang tidak bisa menghatamkannya di bulan Ramadhan karena ia adalah syahrul Quran (Bulannya Al Quran).

Allah telah berfirman: “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur-an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang bathil…” [al-Baqarah/2: 185]

Ketahuilah, orang yang tidak bisa akrab dengan Al Quran di bulan Sya’ban, maka ia tidak akan bisa bersahabat dengannya di bulan Ramadhan; dan orang yang tidak bisa mengkhatamkan Al Quran di bulan suci, maka ia tidak akan bisa mengkhatamkannya di bulan yang lain.

Keempat : mengeluarkan zakat dan sedekah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah berkata, “Dahulu kaum muslimin jika telah masuk bulan Sya’ban, mereka meningkatkan dalam menyibukkan diri membaca al-Qur’an dan mengeluarkan zakat (zakat harta).”

Selain bulan Al Quran, bulan Sya’ban adalah bulan kita meningkatkan kepedulian sosial kita, agar kita tidak merasa berat bersedekah di bulan Ramadhan nanti, karena sedekah itu perang, yaitu perang melawan kekikiran dan perang melawan setan yang membisikkan bahwa sedekah itu mengurangi harta, padahal ia membuat harta berkah dan bertambah.

Allah berfirman,“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir) ; sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadaNya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui ” [Al-Baqarah/2: 268]

Saat Ramadhan, Rasulullah bersedekah seperti angin yang berhembus, maka bulan Sya’ban adalah saatya kita meniupkan angin sedekah sedikit demi sedikit, agat ia berhembus kencang saat Ramadhan tiba.

Dipersembahkan oleh : www.manis.id

News Feed