oleh

Ustadz Muinuddinillah, Sang Murobbi Sejati Itu Telah Pergi

SOLO | Maslahat Umat – Kabar duka datang dari Solo. Mujahid dakwah terbaik, Ustadz Muinuddinillah telah menghembuskan nafasnya yang terakhir di Rumah Sakit Moewardi, Solo, Jawa Tengah, pada pukul 19.25 WIB.  Semoga Almarhum mendapati husnul khatimah, dan keluarga besar Ust. Muinuddinillah Santosa yg ditinggal diberi ganjaran mulia oleh Allah Swt.

Dalam akun facebooknya, Tokoh PKS Amir Santoso menulis kenangannya bersama Ustadz Muin yang berjudul “Sang Murobbi Sejati”: “Saya mengenal beliau semenjak di LIPIA. Beliau lulus tahun 1990, saya lulus 1995. Guru dan murobbi sejati, tetapi beliau sangat tawadhu sehingga kami murid-muridnya seperti sahabat.

Seorang mahasiswa yang cerdas selalu juara satu tetapi lebih dari itu beliau adalah mujahid dakwah, halaqoh atau binaan ngajinya banyak. Sehari bisa mengisi 3 halaqoh, walaupun beliau sibuk. Beliau juga Hafizh Al Qur’an dan ahli ibadah, sholat malamnya hampir setiap malam.

Beliau melanjutkan kuliah S2 dan S3 di Universitas Imam Muhammad bin Saud Riyadh KSA. Disertasinya tentang Madzhab Imam As Syafi’i. Ilmu beliau sangat luas dan dalam. Pada pertemuan Alumni LIPIA beliau selalu menjadi Narasumber. Perhatiannya terhadap saudara luar biasa,  sangat peduli pada saudaranya. Dalam suatu perjalanan pulang, beliau menjadi sopir, dan berkata, biar saya yang nyupirin antum.

“Ketika buka program S2 di LIPIA, beliau bilang sudah masuk saja, buat antum sih ngga usah bayar, saya masuk cuma satu semester karena sesuatu dan lain hal.”

Ustadz Muin terakhir namanya tercatat menjadi calon Anggota Majelis Syura PKS dari Jawa Tengah dan beliau jadi anggota Majelis Syura PKS masa Khidmah 2020 – 2025. Beliau juga menjadi  Ketua Dewan Syariah Kota Solo.

“Kami semua kehilangan antum ust. Kami mencintai antum. Tetapi Allah lebih mencintai antum ust.  Sudah saatnya antum rehat meraih taman-taman Surga di alam barzah,” kata Imam Santoso.

Pesan Ustadz Muin

Keinginan Ustadz Mu’in untuk terus berbagi kebaikan tak pernah surut, walaupun dari kasur rumah sakit sekalipun. Dengan berlinang air mata dan suara yang terbata-bata, beliau menyampaikan pesan kebaikan terasa penuh ketulusan.

Dari ruang kamar rumah sakit Moewardi, Ustadz Muin mendoakan seluruh santri, mahasiswa, para guru dan ulama, serta segenap kaum muslimin, seraya menyampaikan pesan-pesan yang menyentuh hati.

Pertama, iman kepada akhirat dan tanda-tanda Hari Kiamat. Bagi Ustadz Muin, sakit adalah pembuktian. Melalui sakit ini, Allah telah  mengingatkan bahwasanya kematian itu dekat, akhirat itu dekat.

“Saudara semuanya, saya telah mengalami pembuktian pembuktian apa yang Allah katakan kepada diri saya bahwa semua apa Allah kehendaki pasti terjadi. Ketika Allah ingin menyelamatkan saya, maka tidak akan mustahil Allah menyelamatkan hambanya. Allah selalu mengingatkan kepada saya bahwa apapun akan kembali kepada Allah ”

Selanjutnya Ustadz Muin menjelaskan tentang Fitnah Dajjal, Turunnya Nabi Isa, dan matahari terbit dari barat. Setelah kiamat terjadi, setiap manusia akan melewati mahsyar, melewati hisab, melewati shirath, melewati neraka. Semua ini adalah rangkaian perjalanan hidup yang akan dialami manusia.

“Nabi Isa turun dengan risalah. Karena beliau sebagai pengikut Rasulullah, maka beliau mendapat tugas untuk menyempurnakan tugas Rasulullah menghancurkan berhala dan salib-salib, membunuh babi.”

Spiritnya adalah memenangkan Islam. Spiritnya adalah menghancurkan kebatilan. Ini penting saudaraku sekalian, karena memang dinul islam dinullah maka kekuatannya dari Allah. “Saudaraku, setelah berbicara arkanul iman, kita berbicara tentang Al Wala wal Bara. Berbicara tentang makna iman dan amal.”

Beliau  menerangkan tentang loyalitas dan pentingnya kesetiaan terhadap agama. Saat bercerita tentang bahaya Dajjal, dengan penuh tadabbur, beliau membaca Surah Al Kahfi sampai ayat walyatalatthaf walaa yusy’iranna bikum ahada

Kewajiban Tadabbur Al Quran

Ustadz Muin membuka penyampaikan beliau dengan doa sambil berurai air mata:”Saudara saudaraku kaum muslimin yang aku cintai. Semoga apa yang menimpa pada saya tidak menimpa pada saudaraku.  Semua diberikan kesehatan oleh Allah.”

“Ya Allah aku mohon kepadaMu, sebagaimana engkau janjikan bahwa doa sakit Engkau kabulkan, aku bermohon sembuhkanlah saudara saudaraku yang sakit dimana saja berada. Jauhkanlah saudara saudaraku dari penyakit. Agar dapat melanjutkan perjuangan mereka ya Allah. ”

Tadabbur itu berbeda dengan tafsir. Ada orang yang tidak mau tadabbur, karena menganggap harus menguasai seluruh perangkat ilmunya. Sehingga akhirnya ia tidak melakukan tadabbur.  Tetapi ada juga yang merasa bebas melakukannya sehingga berujung kepada tahrif (penyimpangan makna).

Yang benar itu tadabbur adalah usaha memahami kandungan makna-makna ayat sesuai bahasa dan kaedah yang benar. “Kalau kita tidak mentadabburi Al Quran menunjukkan hati kita ada kunci dan gemboknya. Masalah krusial yang terkait dengan kesengsaaraan dan kebahagiaan akhirnya terlewatkan karena tidak tadabbur ”

“Syarat dari tadabbur adalah khusyu dan taat kepada kalamullah. Tadabbur adalah usaha memahami sunnatullah, sebab seluruh ayat adalah sunnatullah ” . Demikian beberapa catatan tentang nasehat Ust Muin.

Seketika saya teringat kepada Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ketika sakit. Beliau dilarang oleh dokter untuk membaca dan menulis. Tetapi Ibnu Taimiyyah bersikeras untuk tetap membaca dan menulis sebab disitulah beliau mendapatkan kebahagiaan, dan rasa bahagia dapat mempercepat kesembuhan.  Tidak lama kemudian Ibnu Taimiyyah sembuh dari sakitnya.

Teriring doa kepada Allah, semoga Ustadz Muin segera beroleh kesehatan dan kesembuhan dari Allah.  (des)

News Feed